Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sejarah Perebutan Tahta di Keraton Kasepuhan Cirebon

Fathnur Rohman , Jurnalis-Sabtu, 08 Agustus 2020 |01:11 WIB
Sejarah Perebutan Tahta di Keraton Kasepuhan Cirebon
Keraton Cirebon (Foto : Okezone.com)
A
A
A

Setelah meninggalnya Sultan Matangaji, sambung Opan, Ki Muda kemudian diangkat menjadi Polmak. Pengangkatan tersebut kemudian menyalahi aturan keraton, karena Ki Muda bukan keturunan dari sultan.

Opan menuturkan, tahta Sultan Kertaon Kasepuhan Cirebon seharusnya diberikan kepada saudara Sultan Matangaji, yaitu Pangeran Surya Negara. "Akhirnya dia yang menggantikan jadi polmah. Disitu ada pelanggaran. Harusnya kan polmah setelah wafat dikembalikan," jelasnya.

Masih disampaikan Opan, polemik perebutan tahta di keraton sudah terjadi sejak dulu. Hal itu disebabkan karena ada campur tangan dari pemerintah Hindia Belanda.

"Penolakan-penolakan ini biasa. Sultan sekarang ini bukan sultan pemangku politik. Tapi pemangku adat, dari tahun 1813. Memelihara adat, tradisi. Zamannya Rafles Sultan hanya sebagai pemangku adat," ucap dia.

(Angkasa Yudhistira)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement