MINSK – Kementerian Dalam Negeri Belarusia mengonfirmasi bahwa polisi menggunakan peluru tajam saat diserang selama demonstrasi dan kerusuhan di negara itu. Kekerasan yang dilakukan polisi di Belarusia mendapat kecaman dari berbagai pihak, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di tengah laporan tewasnya seorang pengunjuk rasa.
Protes besar di Belarusia pecah beberapa jam setelah Aleksander Lukashenko dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan presiden pada Minggu (9/8/2020). Pihak oposisi dan demonstran meyakini pemilihan telah dicurangi untuk kembali memenangkan Lukashenko, sang “Diktator Terakhir di Eropa”, yang telah berkuasa di Belarusia sejak 1994.
BACA JUGA: Bentrokan Pecah di Belarusia Setelah "Diktator Terakhir Eropa" Diprediksi Terpilih Lagi
Pesaing utama Lukashenko Svetlana Tikhanovskaya, kemudian ditahan sebelum melarikan diri ke negara tetangga, Lithuania.
Diwartakan BBC, setidaknya 200 pengunjuk rasa terluka, beberapa parah, dan 6.000 ditahan pada protes malam ketiga pada Selasa (11/8/2020).

Foto: EPA.
Di kota Gomel seorang pria meninggal setelah ditangkap dan ditahan di dalam mobil van polisi. Ini adalah kematian kedua sepanjang kerusuhan di Belarusia.
Kekerasan polisi dan jatuhnya korban selama protes telah memicu reaksi dari banyak pihak termasuk dari PBB dan negara-negara tetangga Belarusia.
BACA JUGA: Nyawanya Terancam, Capres Oposisi Belarusia Diklaim "Aman" di Lithuania
"Laporan menunjukkan bahwa lebih (dari) sekira 6.000 orang telah ditahan dalam tiga hari terakhir, termasuk para pengamat, serta anak di bawah umur, menunjukkan tren penangkapan besar-besaran yang jelas melanggar standar hak asasi manusia internasional," kata Komisioner Tinggi HAM PBB, Michelle Bachelet dalam sebuah pernyataan.
"Yang lebih mengganggu adalah laporan perlakuan buruk selama dan setelah penahanan," tambahnya, menyerukan pembebasan semua yang ditahan secara tidak sah.