Penusukan Syekh Ali Jaber, Polisi Kirim SPDP ke Kejaksaan

Andres Afandi, iNews · Rabu 16 September 2020 10:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 16 340 2278491 penusukan-syekh-ali-jaber-polisi-kirim-spdp-ke-kejaksaan-oQMJQAthx2.jpg Kabid Humas Polda Lampung Komber Zahwani Pandra. Foto: Andres Afandi

LAMPUNG - Kasus penikaman yang dilakukan Alfin Andrian terhadap pengakwah Syekh Ali Jaber saat mengisi acara wisuda tahfidz Alquran di Masjid Falahuddin, Jalan Tamim, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kota Bandar Lampung, Lampung, memasuki babak baru.

Penyidik Polresta Bandar Lampung mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kasus tersebut Ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandar Lampung. 

“Kami sudah mengirimkan SPDP ini kepada jaksa penuntut umum yang kami sudah layangkan pada hari ini,” ujar Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad.

Meski motif utama dalam peristiwa ini belum dipastikan, namun pihak kepolisian menyebut tersangka memiliki kepribadian yang tidak dimiliki orang pada umumnya. Pasalnya tersangka saat diminta keterangan oleh penyidik sering kali terdiam, bahkan polisi menilai ada sesuatu yang disembunyikan oleh tersangka.

Motif sementara pelaku menikam Syeh Ali Jaber diduga karena merasa terganggu dan gelisah dengan konten atau dakwah-dakwah yang kerap disampaikan pendakwah kondang itu.

Baca Juga: Polisi Diminta Transparan Usut Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber

Polisi juga sejauh ini sudah melakukan pemeriksaan terhadap keluarga dan orang terdekat tersangka, untuk diminta keterangannya seputar kepribadian Alfin yang dinilai tertutup.

Selain masih melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap tersangka, tim penyidik juga telah menyita sejumlah alat bukti, yaitu senjata tajam jenis pisau yang digunakan tersangka serta pakaian yang dikenakan korban saat melakukan penusukan.

Rencananya polisi akan melakukan observasi kejiwaan terhadap Alfin di Rumah Sakit Jiwa. Namun ia kini  dijerat dengan pasal berlapis, yakni mulai dari pasal 351 ayat 2 tentang penganiayaan berat, pasal 340 KUHP junto pasal 53 KUHP tentang pembunuhan berencana, dan Undang Undang Darurat No 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam. Dengan begitu itu terancam hukuman 15 tahun kurungan penjara.

Baca Juga: Jenguk Syekh Ali Jaber, Moeldoko: Pemerintah Kecam Tindak Kekerasan Terhadap Ulama 

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini