Hujan Es Sebesar Kelereng Hebohkan Warga Bengkulu

Demon Fajri, Okezone · Rabu 23 September 2020 21:43 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 340 2282717 hujan-es-sebesar-kelereng-hebohkan-warga-bengkulu-OeezSuoiI8.JPG Hujan Es di Bengkulu (Foto: Okezone/Demon)

BENGKULU - Fenomena alam hujan es terjadi di Desa Sindang Jaya dan Desa Air Dingin, Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Rabu (23/9/2020).

Fenomena alam hujan es sebesar kelereng itu terjadi sekira pukul 16.15 WIB. Di mana hujan es tersebut terjadi selama 20 menit hingga 30 menit di dua daerag tersebut. Hujan es sebesar kelereng itu pun merata terjadi di daerah tersebut.

Salah satu warga Desa Sindang Jaya, Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang Lebong, Thomas Agung mengatakan, kejadian fenomena alam hujan es sebesar kelereng itu terjadi tidak begitu lama.

Di mana hujan es tersebut, kata Thomas, hanya berlangsung sekira 20 menit hingga 30 menit. Hujan es yang terjadi sebesar buah kelereng itu merata terjadi di dua daerah. Bahkan, kata Thomas, bagian atap atau seng rumah warga setempat ada yang mengalami rusak ringan akibat hujan es.

''Kejadiannya sekira pukul 16.15 WIB. Hujan es terjadi selama sekira 20 menit hingga 30 menit. Hujan es yang jatuh sebesar kelereng,'' kata Thomas, saat dikonfirmasi okezone, Rabu (23/9/2020).

Hal senada juga disampaikan Warga Desa Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Mardiani. Dia mengatakan fenoemana alam hujan es benar terjadi di daerah tersebut.

''Iya, kejadiannya sore tadi,'' kata Mardiani, saat dihubungi okezone, Rabu (23/9/2020).

Sementara itu, Forcaster Stasiun Meteorologi Kelas III BMKG, Stasiun Klimatologi, Fatmawati-Soekarno Bengkulu, Dyah Rizky mengatakan, penyebab terjadinya hujan es adanya proses pembentukan awan.

Di mana partikel parsel udara, ketika naik ke atas akibat proses konveksi, kondisinya sangat jenuh yang kemudian berubah menjadi butir-butir awan maka awan akan semakin tumbuh ke atas.

''Jika proses konvektif di dasar kuat, awan makin tebal sehingga komponen es dapat tumbuh semakin besar. Hujan es biasanya disertai dengan hujan lebat berasal dari awan konvektif, awan cumulonimbus,'' jelas Dyah.

Hujan es, jelas Dyah, lebih banyak terjadi pada masa transisi/pancaroba musim, baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Lalu, hujan es bisa terjadi lantaran adanya indikasi keadaan cuaca satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas atau gerah.

''Di wilayah Rejang Lebong pada sore hari, hari ini terlihat tutupan awan cumulonimbus pada sore hari hingga malam hari yang dapat berpotensi terjadinya hujan es,'' pungkas Dyah.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini