SENTANI - Warga Sentani, Kabupaten Jayapura yang berada di sekitar Danau Sentani dihebohkan oleh munculnya gugusan batu tak biasa di danau itu.
Belum pasti siapa yang awalnya menemukan gugusan batu tersebut, namun informasi awal yang diperoleh, batu yang kemudian diduga memiliki nilai sejarah masa lampau ini muncul saat air danau surut.
Batu berbentuk lempeng dan beberapa mengerucut ini kemudian oleh warga setempat diberinama 'Batu Beranak' lantaran nampak tiga batu berjejer dengan bentuk dan ukuran berbeda.
Salah satu batu lebarnya sekira 1 meter dan tinggi mencapai sekitar 2 meter dari permukaan air danau. Batu ini disebut batu perempuan atau mama.
Sedangkan batu laki-laki berada mengapit batu anak dengan tinggi dari permukaan air sekitar 1 meter dan bentuknya mengerucut. Sementara batu anak yang berada di tengah berbentuk lempeng dan rata dengan permukaan air danau, sehingga tidak nampak dari kejauhan.
Ukuran batu ini diyakini cukup tinggi. Untuk batu perempuan/mama diperkirakan mencapai 5 meter atau bahkan lebih jika dilihat batu tersebut tertancap kokoh di dasar danau.
Sementara pihak Balai Arkeologi Papua menyebut batu tersebut adalah batu Menhir peninggalan zaman Megalitik atau sekitar 1500 SM silam.
Keberadaan Batu Beranak di Danau Sentani juga tidak ujuk-ujuk ada, peneliti senior Balai Arkeologi Papua Hari Suroto menegaskan bahwa batu tersebut pada zamannya itu sengaja dibawa dari sekitar kaki Gunung Cyclop untuk tujuan tertentu.
Hal ini ditunjukkan bahwa jenis Batu Beranak tidak sama dengan jenis bebatuan di sekitar Danau Sentani.
Baca Juga: Diduga Bangunan Bersejarah Ditemukan di Proyek Stasiun DDT Bekasi
"Jika melihat jenis batunya, batu beranak ini jenis batuan beku Peridotit dan banyak didapatkan di Pegunungan Cyclops. Posisi batu ini berdiri, jadi memang ada unsur kesengajaan. Maksudnya memang orang yang membawanya ke danau kemudian diberdirikan," kata Hari.
Lanjut dia, melihat ukuran batu yang besar dan berat, secara narasi ilmiah, proses pemindahan benda berat dari satu tempat ke tempat lain akan memerlukan banyak tenaga. Dengan kata lain, ada kegiatan gotong royong di zaman itu.
Baca Juga: Arkeolog Temukan Kerangka Panglima Perang Anglo-Saxon Berusia 1.400 Tahun
"Dengan melihat hal ini, maka bisa dipastikan ukuran batu yang besar dan berat, tentu saja dibutuhkan tenaga banyak orang untuk mengangkatnya. Pelajaran yang bisa diambil adalah nilai gotong royong. Nilai gotong royong ini perlu diajarkan ke generasi milenial,"kata Hari.