Kepala Balai Arkeologi Papua Gusti Made Sudarmika kepada media mengatakan sudah melihat langsung Batu Beranak itu pada Rabu (7/10/2020) siang.
"Jadi warga ini percaya bahwa batu ini memiliki nilai sejarah dan religi yang sangat tinggi. Warga tidak bisa sembarangan masuk ke lokasi batu ini, sehingga dengan cara berfikir seperti itu maka faktor-faktor Megalitik masuk di sini," kata Gusti Made.
Dijelaskannya, faktor-faktor sejarah zaman Megalitik bisa dilihat dari beberapa hal, di antaranya adalah adanya Batu Besar atau Menhir yang dipercaya sebagai perwujudan atau pemujaan roh nenek moyang.
Adanya bebatuan yang digunakan sebagai aktivitas masyarakat atau adanya Menhir yang digunakan sebagai batas wilayah dan bisa juga digunakan sebagai tanda wilayah kelompok masyarakat tertentu seperti di beberapa situs prasejarah dunia lain. Termasuk beberapa situs yang telah ditemukan sebelumnya. Kuat dugaan semua adalah peninggalan zaman Megalitik.
"Jadi Ini harus dilestarikan. Wilayah Sentani ini peradabannya sudah sangat maju. Ini terbukti dari beberapa situs sejarah yang telah ditemukan, seperti di situs Tutari kemudian adanya gerabah-gerabah yang sudah bermotif alam sekitar seperti ikan dan lainnya. Itu membuktikan dari segi seni dan kekerabatan sosialnya cukup tinggi," jelas Gusti Made.