BEIJING – China terpilih kembali sebagai anggota Dewan hak asasi manusia (HAM) PBB, mengundang kritik dari berbagai kelompok-kelompok hak asasi internasional. Pasalnya, China dianggap memiliki catatan buruk terkait HAM, terutama terkait pemberlakuan hukuman mati dan dugaan penahanan jutaan Muslim Uighur di Xinjiang.
Di sisi lain, Beijing mengatakan keterpilihannya itu sebagai bukti pengakuan komunitas internasional atas prestasi HAM China. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian pada Rabu (14/10/2020) menolak kritik dari Amerika Serikat (AS), yang menentang keterpilihan Tiongkok tersebut, dan balik menyerang catatan HAM AS, menuduh negara itu menggunakan HAM sebagai alasan mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
BACA JUGA: Indonesia Terpilih Jadi Anggota Dewan HAM PBB
“Keterpilihan ini mencerminkan sepenuhnya pengakuan tinggi komunitas internasional atas pembangunan dan kemajuan HAM China, serta partisipasi China dan pengelolaan HAM global,” kata Zhao kepada wartawan pada konferensi pers harian sebagaimana dilansir Global Times.
Kelompok-kelompok HAM mengecam keterpilihan China karena dugaan pelanggaran hak asasi di Hong Kong, Tibet dan Xinjiang, dan tindakan keras Beijing terhadap wartawan pengacara dan pengkritik pemerintah. Mereka juga mempersoalkan dipilihnya Rusia, Kuba, Pakistan, dan Nepal, negara-negara yang juga dinilai memiliki catatan HAM yang cacat, sebagai anggota Dewan HAM PBB.