Pilpres AS Memanas, "Skenario Kiamat" yang Ditakutkan Rakyat Amerika Terwujud?

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 05 November 2020 07:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 05 18 2304423 pilpres-as-memanas-skenario-kiamat-yang-ditakutkan-rakyat-amerika-terwujud-TjgUheAi4X.jpg Donald Trump (Foto: BBC Indonesia)

Lindy Backues, profesor madya di Eastern University, Amerika Serikat, pernah tinggal di Indonesia tahun 1989-2007

Saya rasa yang sangat kita perlukan adalah seorang pemimpin yang bisa membawa perdamaian dan bisa memulihkan hubungan yang agak kacau antara dua belah pihak:

1. Orang pedesaan yang cenderung mendukung Trump yang merasa selama ini direndahkan statusnya. Keluhan-keluhan dari mereka harus didengarkan. Tidak berarti semua keluhan mereka benar karena menurut saya, mereka juga ada masalah rasisme. Mereka lebih cenderung menganggap Amerika ini sebagai negara kulit putih. Itu salah. Dan salah konsep, karena Amerika sudah lebih dari 200 tahun yang lalu tidak didirikan sebagai itu. Tapi mereka menganggapnya begitu.

Mereka harus melepaskan cengkeramannya di mana ini bukan milik mereka lagi. Mereka harus rendah hati. Tapi mereka juga harus didengarkan. Mereka selama ini di desa-desa, seperti di Indonesia juga, merasa tidak didengarkan, seperti 'orang kota sok tahu'.

2. Sedangkan orang di kota yang lebih cenderung warna-warni, orang dari mana-mana, dari kulit hitam, kulit putih, imigran, dari luar, dan di Philadelphia tempat saya tinggal ini banyak orang Indonesia lagi, mereka juga tidak didengarkan suaranya.

Orang di Washington ( Gedung Putih, Senat) harus merendahkan diri, mereka harus lebih peduli baik kepada orang kota yang terkucilkan maupun orang desa yang terkucilkan. Dan saya rasa yang harus dihasilkan di Amerika ini adalah lebih banyak rendah hati, di mana nasionalisme itu bukan vokal dan menganggap diri kita sendiri paling baik di dunia, tetapi memang kita hanya satu negara di muka Bumi dan kita juga belajar bagaimana untuk jadi lebih baik. Nah, kita perlu ada presiden seperti itu.

Trump telah mengatakan ia akan menolak untuk mengakui kekalahan jika ia kalah dalam pemilihan.

Dalam beberapa pekan terakhir, ini telah menyebabkan perdebatan yang sangat tidak biasa mengenai apakah angkatan bersenjata, dinas rahasia atau polisi akan dipanggil untuk secara paksa menurunkan presiden AS yang dibarikade di dalam Gedung Putih.

Khawatir kerusuhan 

Persaingan ketat kini mengerucut pada segelintir negara bagian: Arizona, Wisconsin, Michigan, Pennsylvania, dan Georgia.

Setiap gugatan hukum harus melalui pengadilan negara bagian terlebih dahulu, sebelum diteruskan ke Mahkamah Agung. Artinya, hasil pemilihan presiden AS 2020 berpotensi perlu waktu berhari-hari untuk diketahui.

Sementara itu, ada kekhawatiran bahwa ketidakpastian hasil bisa menimbulkan keresahan dalam bentuk protes dan bentrokan.

Bahkan saat hari pemilihan hampir berakhir, ada bentrokan dan ketegangan dalam protes yang diadakan di beberapa bagian negara, termasuk di depan Gedung Putih.

"Skenario terburuk mulai terwujud, dengan Biden mengklaim ia dalam jalur menuju kemenangan dan Trump melontarkan tuduhan tidak berdasar tentang penipuan dan kecurangan pemilu," kata Zurcher.

"Ini resep untuk perselisihan dan persengketaan di pengadilan yang berlarut-larut, berakhir dengan pendukung di pihak yang kalah merasa marah dan tertipu."

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini