Obama Angkat Bicara Soal Tuduhan Kecurangan Pilpres Trump

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 13 November 2020 10:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 13 18 2308885 obama-angkat-bicara-soal-tuduhan-kecurangan-pilpres-trump-dOHFh8qRsi.jpg Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama. (Foto: Reuters)

WASHINGTON DC - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengatakan para tokoh senior Partai Republik merusak demokrasi dengan mengikuti klaim tak berdasar terkait kecurangan pemilu yang dikumandangkan Presiden Donald Trump.

Dalam wawancara dengan CBS News, yang akan disiarkan pada Minggu (8/11/2020), Obama mengatakan Presiden terpilih Joe Biden telah "dengan jelas memenangkan" perlombaan ke Gedung Putih tahun ini.

BACA JUGA: Trump dan Partai Republik Tolak Mulai Proses Transisi Pemerintahan AS

Sejumlah media AS telah mengumumkan hasil pemilihan presiden (Pilpres) pekan lalu, tetapi penghitungan suara di beberapa negara bagian masih terus berlanjut.

Mengklaim telah terjadi perusakan surat suara, Trump telah meluncurkan banyak tantangan hukum. Namun, sejauh ini tim presiden belum memberikan bukti apa pun untuk mendukung klaim mereka.

Obama, pendahulu Trump, mengatakan bahwa tuduhan itu dimotivasi oleh fakta bahwa "presiden tidak suka kalah".

BACA JUGA: Biden Sebut Keputusan Trump Tolak Hasil Pilpres AS "Memalukan"

"Saya lebih bermasalah dengan fakta bahwa pejabat Republik lainnya, yang jelas lebih tahu, setuju dengan ini," tambahnya sebagaimana dilansir BBC. "Ini satu langkah lagi dalam mendelegitimasi tidak hanya pemerintahan Biden yang akan datang, tetapi demokrasi secara umum, dan itu jalan yang berbahaya."

Obama berbicara menjelang rilis memoar barunya, A Promised Land, yang mencatat kariernya ke Senat AS dan masa jabatan pertamanya sebagai presiden. Memoir itu akan dirilis pada 17 November, ini adalah yang pertama dari dua buku yang membahas masa jabatannya di Gedung Putih.

Dalam memoarnya, Obama mengatakan Presiden Trump naik ke tampuk kekuasaan dengan memicu kekhawatiran tentang seorang pria kulit hitam yang memimpin negara, menurut kutipan yang dikutip oleh CNN.

"Seolah-olah kehadiran saya di Gedung Putih telah memicu kepanikan yang mendalam, perasaan bahwa tatanan alam telah terganggu," tulisnya.

"Untuk jutaan orang Amerika yang ketakutan oleh seorang pria kulit hitam di Gedung Putih, (Trump) menjanjikan ramuan untuk kecemasan rasial mereka."

Saat ini Biden unggul 5,2 juta suara dari Trump, sekitar 3,4%, dan diproyeksikan memiliki cukup suara elektoral yang dibutuhkan untuk mengambil kursi kepresidenan.

Menurut penghitungan VOA, Biden diproyeksikan memiliki 279 suara elektoral, melebihi 270 yang dibutuhkan. Sementara Trump memiliki 217.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini