Demonstran Pro-Demokrasi Sebut Pemerintah Thailand 'Dinosaurus'

Agregasi VOA, · Senin 23 November 2020 07:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 23 18 2314178 demonstran-pro-demokrasi-sebut-pemerintah-thailand-dinosaurus-pVNixVIhxw.jpg Sejumlah pengunjuk rasa mengenakan kostus Dinosaurus yang menurut aktivis pro-demokrasi mewakili generasi tua politisi senior di Bangkok, Thailand, Sabtu (21/9/2020) (Foto: AFP/VOA Indonesia)

KELOMPOK pro-demokrasi Thailand yang dijuluki "Pelajar Buruk" merebut sebuah persimpangan di pusat kota Bangkok pada Sabtu 21 November malam. Mereka mengejek pemerintah sebagai "dinosaurus," menentang kerajaan di negara itu.

Balon-balon besar berbentuk meteor yang mengisyaratkan berakhirnya "era dinosaurus" mewarnai unjuk rasa yang diikuti ribuan orang. Para pengunjuk rasa, sebagian mengenakan kostum T-Rex, menari diiringi lagu rap anti-pemerintah. Aksi itu digelar oleh sekelompok pelajar SMA yang muak dengan sistem pendidikan yang mengutamakan hafalan dan kepatuhan pada kerajaan, daripada pemikiran kritis.

"Dinosaurusnya adalah para pejabat pemerintah yang berwenang mengambil keputusan terkait kehidupan kami," kata Pimchanok Nongnual, 19, kepada VOA.

"Mereka terperangkap dalam tradisi. Mereka konservatif, kolot, dan menolak untuk berubah. Waktu mereka sudah habis, mereka harus pergi dan membuka jalan bagi orang-orang yang lebih kompeten," kata Nongnual.

Baca Juga: Demonstran Thailand Lempari Markas Polisi dengan Cat 

Thailand, sebuah kerajaan yang pernah mengalami 13 kudeta dalam kurang dari seabad, kembali menempuh jalan buntu, enam tahun setelah kudeta terakhir, yang kata pemimpinnya bertujuan mengakhiri perpecahan politik selamanya dan memulihkan pertumbuhan ekonomi.

Namun, dalam beberapa hari terakhir saja, kelompok-kelompok demonstran yang bersaing, bentrok di jalan-jalan. Polisi menginterogasi para pengunjuk rasa pro-demokrasi yang berusia mulai dari 15 tahun. Belum ada tanda-tanda kerajaan bersedia untuk berkompromi. Mereka justru mengancam memperketat penggunaan undang-undang, terutama terhadap mereka yang mengkritik kerajaan.

Gerakan pro-demokrasi itu menghendaki perdana menteri Prayuth Chan-ocha dan pemerintahannya mengundurkan diri. Gerakan itu juga mendesak dibentuknya konstitusi baru untuk menggantikan konstitusi lama yang ditulis oleh militer, serta reformasi kerajaan.

Baca Juga: Demonstran Thailand Tuntut Perdana Menteri Mengundurkan Diri dalam 3 Hari

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini