Kanselir Jerman Khawatir Negara Miskin Tidak Dapat Akses Vaksin Covid-19

Susi Susanti, Koran SI · Senin 23 November 2020 17:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 23 18 2314660 kanselir-jerman-khawatir-negara-miskin-tidak-dapat-akses-vaksin-covid-19-EeJeKjDQfm.jpg Foto: Reuters

JERMAN - Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan keprihatinan tentang akses negara negara miskin untuk mendapatkan vaksin Covid-19.

Hal ini diungkapkan Merkel saat berbicara di pertemuan puncak KTT G20 yang diselenggarakan secara virtual oleh Arab Saudi. Di forum itu, Merkel mengatakan kemajuan perkembangan vaksin dirasa lambat, sehingga dia akan mengangkat masalah ke aliansi vaksin global GAVI.

“Kami sekarang akan berbicara dengan GAVI tentang kapan perundingan ini akan dimulai karena saya agak khawatir belum ada yang dilakukan mengenai itu,” ujarnya.

Komentar Merkel ini muncul beberapa saat setelah Amerika Serikat (AS) mengumumkan jika beberapa orang Amerika dapat divaksinasi paling cepat 11 Desember mendatang.

(Baca juga: Arloji Saku Mahatma Gandhi Laku Seharga Rp227 juta)

Sementara itu, di forum itu, para pemimpin negara berjanji akan menistribusikan vaksin secara adil dan merata. Negara-negara terkaya di dunia berjanji untuk mendukung negara-negara miskin yang ekonominya hancur akibat krisis. Namun hanya memberikan sedikit rincian tentang dana yang akan diperkukan.

Negara-negara G20 juga berjanji untuk menangani pembiayaan segera yang diperlukan untuk mendukung produksi dan distribusi vaksin Covid-19 yang adil, serta perawatan untuk virus, dan tes.

“Kami tidak akan menyisihkan upaya untuk memastikan akses mereka yang terjangkau dan adil bagi semua orang,” ungkap konferensi itu.

Saat konferensi pers, Menteri Keuangan Saudi Mohammed al-Jadaan menekankan ada konsensus di antara negara-negara G20 yang menyatakan “jika kita meninggalkan negara mana pun, kita akan tertinggal”.

Negara-negara kaya termasuk Inggris telah membeli sejumlah besar dosis vaksin dari perusahaan farmasi.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta para pemimpin G20 untuk melangkah lebih jauh dan lebih cepat dalam mendukung negara-negara miskin dengan menyumbangkan dosis, menjalin kemitraan industri, dan bahkan berbagi kekayaan intelektual.

Namun Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan diperlukan lebih banyak dana untuk menutup “gap” kekurangan dana sebesar USD4,5 miliar (Rp64 triliun) dalam skema yang disebut ACT-Accelerator. Yakni mekanisme yang dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang bertujuan untuk memastikan akses untuk tes, perawatan dan vaksin untuk semua.

Seperti diketahui, virus ini telah menginfeksi hampir 60 juta orang di seluruh dunia sejak muncul di China Desember tahun lalu. Virus ini juga telah menewaskan hampir 1,4 juta orang di seluruh dunia.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini