Unair Kembangkan Peran Bakteri Usus untuk Kesehatan Mental

Aan haryono, Koran SI · Senin 23 November 2020 09:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 23 519 2314220 unair-kembangkan-peran-bakteri-usus-untuk-kesehatan-mental-n6O7huGzsf.jpg Unair kembangkan bakteri usus untuk kesehatan mental. Foto: Aan Haryono

SURABAYA – Tim farmasi Universitas Airlangga (Unair) mengembangkan peran bakteri usus untuk kesehatan mental. Tim terdiri atas Tri Wahyudi dan Tasya Sherina Hendra Febyola

Ketua Tim Farmasi Tri Wahyudi menuturkan, pihaknya memutuskan untuk menulis artikel literatur review yang membahas mengenai psikobiotik. Pembahasan ini mengenai bakteri baik pada usus yang memiliki dampak positif pada kesehatan mental.

(Baca juga: Wagub DKI Diperiksa Hari Ini, Berikut Tokoh yang Dipanggil Polisi Terkait Acara HRS)

“Kemarin kita pakai topik psikobiotik karena banyak yang tidak menyadari bahwa sebenarnya dalam perut dapat mempengaruhi kesehatan mental juga,” kata Yudi, panggilan akrabnya, Senin (23/11/2020).

Ia melanjutkan, ketika tikus yang mengalami depresi dilakukan fecal trans atau pemindahan tinja dari satu organisme pada organisme lain pada tikus normal, ternyata tikus yang sehat akhirnya mendapat gejala depresi juga. Studi lain juga menjelaskan bahwa pada orang depresi ketika dibandingkan dengan orang sehat ternyata ada beda keragaman dan jumlah mikrobiota pada ususnya.

“Hal tersebut membuktikan ada pengaruh mikrobiota pada usus dengan kesehatan mental individunya,” ucapnya.

Cara menjaga mikrobiota pada usus antara lain adalah olahraga, konsumsi makanan banyak serat, dan siklus tidur. Siklus tidur sangat berpengaruh karena mikrobiota sendiri juga punya waktunya tidur, jam aktif, sehingga jam tidur disarankan empat jam tidak mengonsumsi agar saluran pencernaan dan mikrobiota dapat beristirahat.

“Kemudian penambahan suplementasi probiotik dan makanan fermentasi seperti keju, yogurt, dan tape,” kata mahasiswa Farmasi angkatan 2017 tersebut.

(Baca juga: Meski Diimingi Sembako, Warga Petamburan Enggan Ikuti Rapid Tes)

Yudi menjelaskan, dia dan timnya tertarik mengikuti lomba literatur review karena hasil dari literatur review dapat untuk tugas akhir dan publikasi ilmiah, berbeda dengan karya tulis ilmiah. Selain itu juga bisa untuk belajar penulisan.

Pada masa pandemi saat ini, salah satu kendala yang dihadapi adalah tidak adanya kontak langsung dengan anggota. Pengerjaan artikel dilakukan secara daring, bahkan persiapan presentasi dan pembimbingan.

“Kami berharap karya kami dapat dipublikasikan karena topik ini masih cukup baru di Indonesia dan berpotensi untuk dimasukkan dalam jurnal yang terindeks Sinta,” jelasnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini