Menurutnya, para orang miskin dan duafa itu tidak hanya diberikan bantuan berupa bibit lobster, tapi diberikan dalam bentuk sudah besar. "Dan ga dikasih "mentahnya", ga dikasih bibitnya. Tapi dikasih lobster jadi lobster gede. Jd eksportir lobster kelas dunia. Ngalahin Vietnam dan negara2 pengekspor lain," tuturnya.
Tidak hanya lobster, namun langkah serupa juga bisa dilakukan untuk berbagai komoditi alam lainnya. "Juga bahan2 alam lain. Kelola dulu di dalam negeri. Baru ekspor. Bismillaah. Indonesia bisa... Saya pernah denger. Ada "petani" luar, pengusaha luar negeri, negara lain, yang buka seluas2nya lahan buah/kebon... Sekalian pembibitan di Indonesia. Lalu diekspor balik ke negaranya dari Indonesia. Mereka cerdas sekali. Tinggallah kemudian segudang pertanyaan buat diri kita sendiri," ungkapnya.
Dikatakan Yusuf Mansur, dalam persoalan Program Pemberdayaan Dhuafa, hanya dari satu jenis kekayaan alam Indonesia berupa lobster saja, menurutnya sangat mungkin bisa menjadi solusi soal kemiskinan di Indonesia.
"Lobster.... Subhaanallaah. Ternyata, orang miskin bisa ilang dlm temp sekejap saja dari Bumi Indonesia. Selanjutnya, orang2 miskin Indonesia, pembantunya adalah orang Hongkong, supirnya, orang Taiwan, tukang masaknya dari Amerika, tukang kebonnya dari Eropa... Sbb udah kaya semua, hehehe," tuturnya.