Penelitian Terbaru Tunjukkan Emosi Hewan Sama Dengan Manusia

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 27 November 2020 14:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 27 18 2317323 penelitian-terbaru-tunjukkan-emosi-hewan-sama-dengan-manusia-CtPnYaCCn7.jpg Foto: Shutterstock

 BELFAST - Hewan menunjukkan suasana hati yang positif ketika mereka ”menang” dan pesimisme ketika mereka “kalah”.

Penelitian ini menunjukkan jika hewan-hewan ini mengalami emosi seperti manusia. Para peneliti dari Belfast menggunakan contoh kontes hewan untuk sumber daya yang terbatas, atau pasangan hewan untuk menyatakan bahwa emosi memengaruhi perilaku hewan.

Temuan lengkap dari penelitian ini dipublikasikan di jurnal “Proceedings of the Royal Society B”.

Ilmuwan yang mempelajari perilaku hewan secara tradisional diketahui tidak mempertimbangkan peran emosi, yang sulit diukur secara akurat pada hewan.

Namun, tim menyimpulkan, hewan berperilaku berbeda setelah hasil kontes. Ini terlihat saat hewan kalah, dia akan mengembangkan keadaan emosi negatif.

(Baca juga: Rumor Skandal Presiden Putin, Kencani Cleaning Service hingga Punya Anak Rahasia)

Hal ini akan membuat mereka mengevaluasi peluang mereka untuk memenangkan pertarungan di masa depan dengan lebih pesimistis. Atau bahkan semakin enggan untuk melibatkan lawan.

Di sisi lain, hewan yang menang akan mengembangkan suasana hati positif yang memiliki efek sebaliknya.

Emosi juga dapat memandu tindakan non-refleksif hewan dalam konteks lain di luar kontes. Mulai dari memberi isyarat hingga pilihan pasangan dan perawatan induknya.

Penelitian ini mungkin akan berdampak pada kesejahteraan hewan, dan bagaimana hal tersebut dapat ditingkatkan.

“Emosi manusia mempengaruhi kognisi dan perilaku yang tidak terkait. Misalnya, orang menilai kepuasan hidup mereka secara keseluruhan lebih tinggi pada hari-hari cerah daripada hari hujan,” terang penulis makalah dan ahli perilaku hewan Andrew Crump dari Queen’s University Belfast.

Fenomena serupa dapat dilihat pada hewan. “Kami telah menemukan jika emosi hewan juga memengaruhi kognisi dan perilaku yang tidak terkait. Misalnya, hewan yang memenangkan kontes mengalami suasana hati yang lebih positif dan mengharapkan lebih sedikit predator di lingkungan mereka,” ujarnya.

“Demikian pula, hewan yang kalah dalam pertandingan mengalami emosi negatif dan kurang mengambil bagian dalam kontes di masa mendatang. Efek bawaan ini dapat menyebabkan perilaku mal-adaptif,” lanjutnya.

“Stimulus atau peristiwa yang menimbulkan respons emosional dapat memengaruhi hampir semua keputusa, berpotensi dengan konsekuensi hidup atau mati,” urainya.

“Misalnya, apakah gemerisik daun itu predator atau angin? Hewan yang gelisah mungkin akan menafsirkan gemerisik sebagai predator dan melarikan diri,” ujarnya.

“Suasana hati ini adaptif ketika kecemasan itu relevan, misalnya, jika itu disebabkan oleh pengalaman serangan predator sebelumnya. Tapi mood maladaptif jika dipicu oleh hal lain, misalkan kalah dalam kontes,” tambahnya.

“Dalam keadaan ini, ketika dasar emosional dari keputusan tidak terkait dengan keputusan itu sendiri, kami memprediksi pengambilan keputusan yang mal-adaptif,” terangnya.

Sementara itu, penulis makalah dan pakar perilaku hewan Gareth Arnott dari Queen’s University Belfast mengatakan peneliti perilaku hewan biasanya tidak mempertimbangkan emosi hewan.

Hasil penelitian ini menunjukkan mungkin perlu mempertimbangkan peran emosi hewan yang sangat penting dalam kaitannya dengan pemahaman perilaku mereka selanjutnya.

“Memahami emosi ini juga memiliki manfaat praktis untuk masa depan kesejahteraan hewan. Kesejahteraan yang baik mengharuskan hewan memiliki sedikit emosi negatif dan banyak kesempatan untuk pengalaman positif,” terangnya.

“Memahami emosi hewan dan mengapa mereka berevolusi, oleh karena itu, akan membantu kita mengukur dan meningkatkan keadaan emosi dan kesejahteraan hewan,” lanjutnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini