PBB Hapus Ganja dari Daftar Obat Paling Berbahaya di Dunia

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 04 Desember 2020 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 03 18 2321216 pbb-hapus-ganja-dari-daftar-obat-paling-berbahaya-di-dunia-tkWbfGHNgw.jpg Foto: Reuters

WINAKomisi Narkotika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memutuskan menghapus ganja dan resin ganja dari kategori obat paling berbahaya di dunia pada Rabu (2/12).

Melalui pernyataan, Badan PBB yang berbasis di Wina mengatakan 53 negara anggotanya telah memilih mengumpulkan suara 27-25, dengan satu abstain, untuk mengikuti rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia untuk menghapus ganja dan resin ganja dari Schedule IV Konvensi 1961 tentang Narkotika.

Menurut NPR, Rusia adalah lawan vokal dari klasifikasi ulang dan menyebut ganja sebagai obat yang paling disalahgunakan secara global.

Sementara itu, China, Mesir, Nigeria dan Pakistan juga termasuk di antara mereka yang menentang. Sedangkan Ukraina mengambil sikap abstain.

Kanada dan Uruguay telah melegalkan penjualan dan penggunaan ganja untuk tujuan rekreasi. Langkah ini sepertinya akan diikuti Meksiko dan Luksemburg. Banyak negara lain di dunia juga telah mendekriminalisasi kepemilikan ganja.

(Baca juga: Mencekam, Puluhan Napi Perempuan Diperkosa Berhari-hari saat Penjara Rusuh)

Meskipun klasifikasi ulang tidak akan mendorong perubahan segera dalam regulasi obat karena harus diputuskan di tingkat nasional. Namun hal ini dapat berdampak dalam jangka panjang karena banyak negara yang melihat ke konvensi internasional sebagai pedoman.

Narkoba berbahaya dan sangat adiktif yang termasuk dalam daftar itu termasuk heroin dan beberapa opioid lainnya.

Obat-obatan yang ada di Schedule IV adalah bagian dari obat-obatan yang ada di konvensi Schedule I, yang sudah membutuhkan tingkat kontrol internasional tertinggi.

Meskipun menghapus ganja dan resin ganja dari daftar Schedule IV, PBB memilih untuk meninggalkan zat tersebut dalam daftar obat Schedule I.

Daftar Schedule I juga mencakup kokain, Fentanyl, morfin, Metadon, opium, dan oksikodon, obat penghilang rasa sakit opiat yang dijual sebagai OxyContin.

Dua tahun lalu, WHO membuat rekomendasi ke PBB yang mengakui jika ganja dapat memiliki efek negatif dan menyebabkan ketergantungan tetapi tidak membawa risiko kematian yang signifikan, seperti obat lain dalam daftar Schedule IV. Zat ini juga dianggap memiliki sejumlah manfaat medis.

Yang tercantum dalam rekomendasi WHO termasuk mengurangi rasa sakit dan mual, meredakan gejala kondisi termasuk anoreksia, epilepsi, dan sklerosis ganda.

Permintaan ganja di dunia medis selalu tinggi, termasuk beberapa produk turunan ganja yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Cannabidoil atau CBD dapat ditemukan dalam segala hal mulai dari krim wajah hingga suplemen hingga lilin.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini