Modus Ingin Transfer Ilmu Kharismatik, Guru Silat Lecehkan Siswinya

Agregasi Solopos, · Jum'at 11 Desember 2020 18:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 11 512 2326057 modus-ingin-transfer-ilmu-kharismatik-guru-silat-lecehkan-siswinya-bKIj8GzS12.jpeg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

SRAGEN - Kasus pelecehan seksual yang dilakukan oknum pelatih silat terjadi di Sragen, Jawa Tengah. Pelakunya adalah seorang oknum pelatih silat dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Kecamatan Tanon yang mencabuli siswinya sendiri.

Mirisnya, korban masih di bawah umur. Tidak hanya itu, korban juga diminta berfoto tanpa busana oleh sang pelatih.

Informasi yang dihimpun, aksi bejat yang dilakukan oknum pelatih berinisial EK terhadap siswinya yang berusia 15 tahun itu terjadi di tempat latihan. Tepatnya di sebuah sekolah di Tanon, pada Jumat, 2 Oktober 2020 sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu, korban disuruh pelatihnya, EK, melakukan ritual pendalaman ilmu.

EK berusaha memperdaya korban dengan dalih ingin mentransfer ilmu kharismatik. Pada saat itulah, EK meluapkan nafsu bejatnya dengan mencabuli korban.

Foto tanpa busana yang dilakukan korban atas permintaan pelaku, pun diminta dikirimkan ke nomor Whatsapp (WA) EK yang bekerja sebagai guru wiyata bakti di sebuah sekolah di Sragen. Korban terpaksa menuruti permintaan EK karena disertai ancaman tertentu.

Baca Juga : Viral Ular Tanpa Kepala Serang Seorang Lelaki dan Anjingnya

Baca Juga : Kabar Baik, Wagub DKI Sembuh dari Covid-19

Didampingi keluarga, korban lantas melaporkan kasus pelecehan seksual yang dialaminya itu ke Mapolres Sragen beberapa hari kemudian. Kasus tersebut ditangani penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sragen.

Ketua PSHT Sragen, Jumadi, mengaku sudah datang sendiri ke Tanon untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Jumbadi menjelaskan laporan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum pelatih silat itu sudah dicabut dari kepolisian.

Sebagai gantinya, EK disanksi sesuai mekanisme organisasi. Dia menegaskan apa yang dilakukan EK sudah melanggar ajaran organisasi. Meski dia seorang pelatih, PSHT menjatuhkan sanksi tegas kepada EK.

“Masalah itu sudah diselesaikan secara organisasi. Ada sanksi dari organisasi. Dia sudah dikeluarkan dari organisasi. Segala atribut di tempat dia diambil semua. Dia tidak boleh mengadakan kegiatan latihan atau kegiatan yang mengatasnamakan organisasi. Dia otomatis diberhentikan atau dinonaktifkan dari organisasi karena perilakunya sudah melanggar ajaran dan aturan organisasi. Kartu anggotanya sudah disita,” tegas Jumadi.

Namun pernyataan pecabutan laporan itu terbantahkan oleh pernyataan Kasat Reskrim Polres Sragen, AKP Guruh Bagus Eddy Suryana. Mewakili Kapolres Sragen, AKBP Yuswanto Ardi, ia mengatakan penanganan kasus itu masih dalam tahap penyelidikan. “Saat ini sudah tahap penyelidikan dengan memeriksa saksi-saksi. Saat ini sudah ada lima saksi yang kita mintai keterangan [termasuk terlapor],” kata Guruh .

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini