Kisah Pembelot Korut Selundupkan "Lingerie" untuk Anak Perempuannya

Susi Susanti, Koran SI · Kamis 17 Desember 2020 11:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 17 18 2329308 pembelot-korut-selundupkan-lingerie-untuk-anak-perempuannya-Jg9OQO5f4Q.jpg Foto: Daily Star

KOREA UTARA - Keluarga asal Korea Utara (Korut) ini memutuskan menjadi pembelot demi pakaian dalam  "lingerie". 

Mereka menyelundupkan pakaian dalam “lingerie” dari Korea Selatan (Korsel). Keluarga ini pun menyiapkan skema ilegal untuk mendapatkan pakaian dalam untuk putri mereka.

Sang kepala keluarga Han diketahui mantan letnan kolonel yang bekerja di Kawasan Industri Kaesong pada 2008. Ini menjadi tempat bisnis Korsel yang kerap mempekerjakan pekerja dari luar perbatasan.

Han diketahui mulai berdagang ginseng dengan pekerja asal Korsel dengan imbalan pakaian dalam, yang diketahui sulit ditemukan di Korut.

Seiring waktu, dia melanggar kebijakan ketat negara yang melarang berteman dengan orang dari Korsel.

Beberapa prajurit di bawah komando Han memiliki orang tua yang bekerja di petak ginseng Kaesong, dan dia meminta mereka untuk membawa sebagian akar ginseng itu kembali untuknya ketika mereka kembali dari liburan.

Dia pun menjual ginseng dengan orang Korsel dengan imbalan komoditas berharga yakni pakaian dalam.

Han mengirim pakaian dalam itu ke rumah untuk putrinya Han Ock, yang berusia awal 20-an yang tinggal di Pyongyang. Namun dia segera melihat peluang bisnis yang menguntungkan dan mulai mengirim seluruh kotak pakaian dalam ke dalam negeri.

(Baca juga: Tragis, Anak 2 Tahun Tembak Diri Sendiri, Ibunya Sedang Menyuapi Adik Bayinya)

“Putri saya terpesona oleh pakaian dalam cantik yang dirancang dengan baik dari Korsel dan dia mulai bicara ke teman-temannya,” katanya kepada This Week in Asia.

“Kemudian, dia mulai menjualnya kepada teman-temannya untuk mendapatkan keuntungan yang besar,” terangnya.

Tapi Han Ock merasa curiga ketia dia sedang dimata-matai oleh pihak berwenang saat bekerja di rumah sakit militer, tempat dia bekerja sebagai perawat.

Sang putri pun membuat skema agar pacarnya yang bekerja sebagai sopir militer mengantar dia, ibu dan saudara laki-lakinya melintasi perbatasan ke China.

Penjaga perbatasan percaya jika mereka adalah keluarga komandan tentara. Keluarga itu akhirnya berhasil sampai ke Thailand dan bisa memasuki keamanan kedutaan Korea Selatan.

Sang ayah, Han tidak mengetahui apa yang dilakukan putrinya. Dia hanya terkejut ketika kembali ke rumah dan menemukan rumah kosong tiak berpenghuni.

Beberapa bulan kemudian dia bekerja di sebuah proyek penerbangan di Rusia. Han pun menerima panggilan telepon dari putrinya yang memberitahukan jika mereka masih hidup dan sehat di Seoul.

Dia pun memutuskan untuk meninggalkan karir militer. Dia mulai mencari bantuan untuk melakukan perjalanan ke Thailand dan berlindung di kedutaan Korsel di Bangkok.

Dia dan 29 pembelot Korut lainnya diterbangkan ke Korsel dan bisa bertemu dengan keluarganya. Namun Han sempat dibawa ke tempat tahanan untuk ditanyai oleh otoritas intelijen setempat selama tujuh bulan.

Atas semua informasi yang diberikan, Han mendapatkan hadiah berupa uang sebesar 200.000 poundsterling (Rp3,8 miliar) karena memberikan rahasia militer. Termasuk keberadaan beberapa terowongan melintasi perbatasan yang telah dibangun jika terjadi perang.

Dia menggunakan uang itu untuk membeli tanah pertanian bagi keluarganya untuk tinggal di Seosan, Korsel. Dia juga memelihara 30 anjing untuk dikonsumsi keluarganya.

“Saya tidak tahu di sini dilarang menyembelih anjing untuk dikonsumsi,” terangnya.

“Saya menyembelih salah satu dari mereka untuk dibagikan dagingnya dengan teman-teman saya dan seseorang di lingkungan itu melaporkan saya ke pihak berwenang. Akibatnya, saya dikenai denda sebear 340 poundsterling (Rp6,5 juta) karena penyiksaan hewan,” jelasnya.

Keluarga Han mengaku senang bisa pindah ke Korsel. Namun pembelot lainnya harus berjuang dengan isolasi sosial, kemiskinan, dan penyakit akibat kekurangan gizi seumur hidup.

Akibat pandemi virus corona, penyeberangan perbatasan pun berkurang secara signifikan. Tahun ini mencapai titik terendah sejak 2003.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini