Burnout Syndrome
Tekanan luar biasa dan rasa lelah yang diceritakan dokter Tri Maharani itu dialami pula oleh para tenaga kesehatan lainnya.
Menurut penelitian yang dilakukan Universitas Indonesia (UI), sebanyak 83% tenaga kesehatan Indonesia mengalami burnout syndrome derajat sedang dan berat selama masa pandemi Covid-19.
"Tingginya risiko menderita burnout syndrome akibat paparan stres yang luar biasa berat di fasilitas kesehatan selama pandemik ini dapat mengakibatkan efek jangka panjang terhadap kualitas pelayanan medis karena para tenaga kesehatan ini bisa merasa depresi, kelelahan ekstrim bahkan merasa kurang kompeten dalam menjalankan tugas," kata Ketua Tim Peneliti dokter Dewi Soemarko dalam penyataan tertulis UI di lamannya.
Penelitian UI ini sejalan dengan survei yang dilaksanakan RSCM di Jakarta.
Hervita Diatri, psikiater di rumah sakit itu mengatakan sebagian besar tenaga kesehatan mengalami distressed, atau kecemasan.
"Kalau data di rumah sakit saya menunjukkan bahwa, kalau distressed - itu kami sebutnya - ketakutan, cemas tapi bukan gangguan cemas, itu angkanya mencapai sekitar 71 persen," ungkapnya.
"Jadi, rasa tidak aman, yang mendominasi. Tapi kalau kemudian masuk ke gangguan, angkanya lebih kecil. Tetapi, kalau rasa takut yang tadi saya sampaikan itu terus menerus ada dan terus kemudian situasi tidak kunjung membaik, bahkan juga kemudian ditambah dengan fisik yang makin lemah, kami menduga, untuk kesehatan jiwa, bahwa risiko untuk teman-teman tenaga kesehatan mengalami gangguan yang lebih berat itu menjadi lebih besar," tambah Hervita.
Menurutnya kelelahan sudah terjadi sejak bulan keenam maupun ketujuh pandemi.
"Burnout terbanyak itu kalau dilihat dari kondisi yang sering dialami di Indonesia adalah lebih pada beban tugas yang berat. Beban tugas yang saya maksudkan adalah teman-teman ini bekerja long shift, dengan baju yang seperti itu, dengan hazmat," jelasnya.