'Tidak bisa diprediksi bisa terinfeksi'
Ketidaknyamanan bertugas dengan mengenakan alat pelindung yang lengkap itu dialami Zulfa Rachmawati, seorang perawat IGD di RSUD Bandung, salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 di ibu kota provinsi Jawa Barat tersebut.
Zulfa terlibat langsung dalam penanganan pasien Covid-19 sejak Maret lalu.
Meski panjang sif tugas sudah dikurangi untuk menjaga stamina para petugas kesehatan, ia sempat kelelahan dan terinfeksi virus corona pada November lalu.
"Jadi ya kita memang nggak bisa prediksi sih, kalau misalnya kapan, atau kalau jam kerja kita lagi banyak dan saya terinfeksi, nggak kayak gitu. Karena sebenarnya kan udah ada alurnya sendiri. Mungkin kemarin itu karena kekebalan tubuh saya lagi turun aja, kecapean," kata Zulfa via telpon.
"Memang saat itu, saya lagi kurang enak badan dan saya jaga di ruangan itu (khusus bagi pasien yang dicurigai mengidap Covid-19) dan memang udah jadi risiko sih bagi saya.
Saya nggak nyalahin siapa-siapa, nggak nyalahin kerjaan, karena saya cape atau gimana. Nggak sih, saya nggak seperti itu," tambahnya.
Bahkan menurut Zulfa, baginya masa-masa yang lebih stress adalah saat awal pandemi, ketika informasi mengenai Covid-19 masih sangat terbatas dan koordinasi di IGD masih kurang memadai.
Kini ia lebih fokus pada menjaga keamanan diri, meski terkadang mengalami rasa jenuh.
"Kalau dibilang jenuh, mungkin karena repot aja - kalau dibilang repot itu kasar - ya memang repot karena bekerja dengan APD level 3 itu capek. Itu panas banget, pake goggle, face shield, hazmat, paka gaun di dalamnya, pakai cover shoes," tuturnya.
'Manifestasi kelelahan fisik dan kelelahan mental'
Merujuk pada situasi yang dialami para tenaga kesehatan serta penelitian dan survei mengenai 'tekanan' terhadap para tenaga kesehatan, juru bicara Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Halik Malik, mengharapkan kondisi tersebut bisa dikelola dengan lebih baik dengan dukungan lingkungan sekitar.
Apalagi pandemi masih terus berlanjut, yang berarti para tenaga kesehatan masih harus terus menghadapi situasi serupa.
"Hasilnya 82 persen itu yang ringan sedang, kemudian 1% itu masuk kategori berat (merujuk studi UI). Ini kan sebetulnya gejala burnout,manifestasi kelelahan fisik dan kelelahan mental yang berkepanjangan," ujar Halik.
"Dan kami pikir itu bisa dikelola atau bahkan diantisipasi jika ada dukungan yang kuat atau dukungan yang besar dari masing-masing institusi pelayanan kesehatan dan juga pemerintah maupun masyarakat di sekitarnya," katanya.
Perjuangan panjang melawan Covid-19 masih belum berakhir setelah kasus pertama dikonfirmasi pemerintah Indonesia pada awal Maret 2020.
Hingga jelang tutup tahun, pemerintah mencatat penambahan kasus aktif mencapai tingkat yang 'tidak dapat ditoleransi', yakni 105.146 pasien per 22 Desember.
Angka kasus aktif yang menembus 100.000 hanya dalam waktu sebulan terakhir itu menunjukkan 'tren memburuk'.
Demikian pernyataan resmi Satgas Penanganan Covid-19 melalui juru bicaranya Wiku Adisasmito.
Sementara tingkat okupansi atau keterisian rumah sakit di berbagai dearah juga sudah mencapai 80%.
Medan perang itulah yang kini masih harus dihadapi para tenaga kesehatan di tengah 'kelelahan, kecemasan, burnout' yang menimpa dan mengintai mereka.
Dalam situasi itu, dokter Tri Maharani mengambil keputusan untuk terus melayani para pasien, termasuk saat Natal.
"Jadi saya juga tidak meliburkan diri Natal sampai tahun baru ini. Karena satu hal yang saya ketahui dalam perjuangan Covid ini, ya pasti Tuhan ada, dan Tuhan tahu bagaimana saya berjuang di masa Covid ini. Dan itu menurut saya adalah makna Natal yang sebenarnya, yaitu bahwa saya harus mewartakan kabar keselamatan lewat pelayanan saya dalam bidang medis kepada orang-orang, di saat orang-orang semua mengalami putus harapan," ujar Maharani.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.