Frustasi Diblokir, Trump Singgung Twitter di Pidato Perpisahannya

Susi Susanti, Koran SI · Rabu 20 Januari 2021 09:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 20 18 2347490 frustasi-diblokir-trump-singgung-twitter-di-pidato-perpisahannya-L3G5BEiXEv.jpg Foto: Mirror

 WASHINGTON – Polemik antara Presiden Amerika Serika (AS) Donald Trump dengan Twitter juga disinggung dalam pidato perpisahannya.

Trump mengisyaratkan rasa frustrasinya karena diblokir dari Twitter dengan mengecamnya sebagai sensor politik dan daftar hitam.

“Menutup debat yang bebas dan terbuka melanggar nilai-nilai inti kami dan tradisi yang paling abadi,” ungkapnya, dikutip Mirror

“Di Amerika kami tidak menuntut kepatuhan mutlak atau menerapkan ortodoks yang kaku dan kode ucapan hukuman, kami hanya tidak melakukan itu,” jelasnya.

“Amerika bukanlah bangsa berjiwa jinak yang pemalu yang perlu dilindungi dan dilindungi dari orang-orang yang tidak kita setujui. Bukan itu kita, tidak akan pernah menjadi diri kita,” terangnya.

Di akhir pidato, Trump berterima kasih kepada kerabatnya dan rakyat Amerika selama pidatonya dan menggambarkan waktunya sebagai Presiden sebagai “kehormatan besar”.

(Baca juga: Pidato Perpisahan, Trump Panjatkan Doa Menyentuh untuk Biden)

Di pidatonya ini Trump juga membeberkan pencapaiannya selama menjadi orang nomor satu di pidato perpisahan sebelum dia meninggalkan kantor kepresidenan.

Dia menjelaskan pencapaiannya termasuk membangun “ekonomi terbesar” yang pernah ada, mengamankan kesepakatan perdamaian bersejarah di Timur Tengah (Timteng), membuat anggota NATO berkontribusi lebih secara finansial, mengumpulkan negara-negara untuk berdiri di hadapan China “tidak seperti sebelumnya”, dan tidak memulai perang baru.

(Baca juga: Perkenalkan, Lelaki Ini Mirip dengan Joe Biden)

Dia juga menegaskan dirinya berhasil membangun lebih dari 450 mil tembok baru yang kuat.

Dia juga mengecam kerusuhan yang terhadi di Gedung Capitol. “Semua orang Amerika ngeri dengan serangan di Capitol. Kekerasan politik adalah serangan terhadap segala sesuatu yang kami hargai sebagai orang Amerika,” terangnya, dikutip Mirror.

“Itu tidak akan pernah bisa ditolerir. Sekarang, saat saya bersiap untuk menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan baru pada siang hari Rabu, saya ingin Anda tahu bahwa gerakan yang kita mulai baru saja dimulai. Tidak pernah ada yang seperti itu,” lanjutnya.

Dia juga mengatakan akan mendoakan mendoakan pemerintahan baru yang akan dipimpin Presiden AS terpilih Joe Biden. Namun Trump enggan menyebut nama Joe Biden.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini