Biden Hentikan Penjualan Senjata ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab

Susi Susanti, Koran SI · Kamis 28 Januari 2021 08:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 28 18 2352150 biden-hentikan-penjualan-senjata-ke-arab-saudi-dan-uni-emirat-arab-N5za6hr9Nf.jpg Foto: CNN

WASHINGTON – Pemerintahan Joe Biden memutuskan menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE).

Menurut sumber yang mengatakan ke CNN, langkah ini dilakukan setelah melakukan peninjauan yang lebih luas terhadap perjanjian bernilai miliaran dolar yang dibuat oleh pemerintahan Donald Trump.

Menteri Luar Negeri Tony Blinken membenarkan jika penjualan senjata yang tertunda sedang ditinjau, seperti yang biasa terjadi pada awal pemerintahan baru.

“Ini dilakukan untuk memastikan a apa yang sedang dipertimbangkan adalah sesuatu yang memajukan tujuan strategis kami, dan memajukan kebijakan luar negeri kami,” terangnya.

Dia tidak merujuk pada penjualan atau negara tertentu dalam sambutannya, yang dibuat pada konferensi pers Departemen Luar Negeri pertamanya sebagai diplomat top AS.

(Baca juga: Langgar Karantina Sebanyak 7 Kali, Pria Ini Didenda Rp493 Juta)

Langkah untuk membekukan penjualan yang tertunda ke sekutu Teluk dapat menandakan perubahan pendekatan pemerintahan Biden setelah pemerintahan Trump menyetujui penjualan besar dalam bulan-bulan terakhir masa jabatannya.

Seorang sumber mengatakan negara-negara Teluk yang penjualannya sedang dalam proses mengharapkan semacam jeda bagi pemerintahan untuk meninjau tetapi dampak praktisnya belum jelas.

Sementara itu, seorang pejabat Departemen Luar Negeri sebelumnya menggambarkan jeda tersebut sebagai tindakan administratif rutin yang khas untuk hampir semua transisi, dan menunjukkan komitmen pemerintah terhadap transparansi dan tata kelola yang baik, serta memastikan penjualan senjata AS memenuhi tujuan strategis untuk membangun mitra keamanan yang lebih kuat, cakap, dan lainnya.

(Baca juga: Tragis, Dua Polisi Bunuh Diri Setelah Kerusuhan Capitol)

Terkait hal ini, Partai Demokrat di Kongres segera mendukung langkah tersebut.

“Senjata yang kami jual ke Arab Saudi dan UEA telah digunakan untuk membunuh anak-anak sekolah, ditransfer ke milisi ekstremis, dan memicu perlombaan senjata berbahaya di Timur Tengah,” tulis Senator Chris Murphy di Twitter.

“Ini langkah yang benar. Waktunya sekarang untuk mengatur ulang hubungan kita dengan sekutu Teluk,” lanjutnya.

Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat yang akan datang Bob Menendez, mengatakan dia menyambut baik jeda dalam penjualan, yang dinilai terburu-buru tanpa alasan yang jelas tanpa tinjauan menyeluruh terhadap implikasi keamanan nasional AS dan perlindungan nyawa tak berdosa di Yaman.

“Saya mendorong Administrasi Biden untuk secara hati-hati mempertimbangkan implikasi keamanan regional yang lebih luas dari penjualan ini dan untuk berkonsultasi dengan Kongres saat melanjutkan uji tuntasnya pada penjualan senjata ini dan lainnya,” cuitnya.

Pada Selasa (26/1), sekelompok anggota parlemen dari Partai Demokrat mengirim surat kepada Blinken menyerukan pengawasan dan perbaikan hubungan AS-Saudi. Termasuk mendesaknya untuk membekukan pengiriman senjata ofensif ke Arab Saudi.

Diketahui, pada akhir tahun lalu, pemerintahan Trump mendorong sejumlah penjualan senjata bernilai tinggi ke Riyadh dan Abu Dhabi terkait dengan Abraham Accords, yang merupakan kesepakatan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.

Trump juga mengeluarkan deklarasi darurat pada 2019 untuk mempercepat penjualan senjata ke Arab Saudi dan UEA untuk menghindari masalah kongres.

Saat itu, anggota parlemen menentang penjualan tersebut karena keterlibatan Arab Saudi dan UEA dalam konflik berdarah di Yaman yang telah menewaskan ribuan warga sipil, serta pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di tangan pejabat Saudi. Mereka tidak melihat adanya keadaan darurat yang membenarkan untuk mempercepat transfer senjata itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini