JAKARTA - Penyebab banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel) hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Bahkan, sejumlah pegiat lingkungan mengungkapkan jika banjir di Kalsel terjadi karena faktor penyerta seperti deforestasi hutan untuk lahan sawit dan pertambangan.
“Memang ini kejadiannya baru saja terjadi ya dan ini kejadiannya baru beberapa waktu yang lalu terjadi. Tentunya banyak sekali kepentingan yang memperlihatkan siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas bencana banjir di Kalimantan itu,” kata Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iwan Ridwansyah dalam diskusi Sapa Media: Masyarakat Siaga Bencana 2021 secara virtual, Jumat (29/1/2021).
Iwan mengatakan, jika setiap lembaga juga telah mengeluarkan analisisnya. Misalnya, kata Iwan, analisis dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) bahwa Kalimantan telah kehilangan lahan hutan sampai 300.000 hektar.
“Memang setiap lembaga mengeluarkan analisisnya masing-masing misalnya dari LAPAN kemarin sudah mengeluarkan analisis terkait perubahan kehilangan hutan sampai 300.000 hektar,” kata Iwan.
“Kemudian juga BMKG juga sudah mengeluarkan kalau memang hujannya itu sangat ekstrem sekali dan digunakan parameter yang menjadi penyebab. Kemudian tidak lama kemudian sampai Bareskrim Polri juga mengeluarkan penyebabnya karena ada pasang di laut,” papar Iwan.
Jadi, kata Iwan, untuk menganalisis penyebab banjir Kalsel harus melihat data dari berbagai parameter.
“Memang kita harus melakukan estimasi masing-masing parameter yang menyumbang berapa persen kejadian, kejadian banjir di Kalimantan Selatan itu. Tentunya estimasi analisis penyebab itu bisa dilakukan atau tidak dengan cepat mendapatkan jawabannya dengan tepat,” katanya.
Apalagi, kata Iwan, data spasial di luar Pulau Jawa tidak lengkap.
“Karena memang di luar Jawa data spasial kita tidak begitu lengkap. Jadi misalnya kita perlu dapat pemahaman kita tidak hanya perlu data dari tabel-tabel untuk menganalisis penyebabnya. Kita perlu data spasialnya.”
Baca Juga : Banjir Kalsel, KLHK: Tutupan Hutan di Daerah Aliran Sungai Cuma 5%
“Kemudian data hujan, data hujan yang lebih teliti dengan skala yang zaman tentunya akan menganalisis lebih detail lagi apakah hujan itu yang jadi penyebab. Termasuk juga dari data pasang surut, seberapa besar si air pasang ini menahan air dan mengalir langsung ke laut,” tambah Iwan.
Tentunya, analisis dari berbagai instansi harus diperhitungkan.
“Itu harus kita simulasi, harus kita perhitungkan yang matematis ya, yang tentunya sebenarnya sekarang ada aplikasi-aplikasi yang bisa menampilkan ya, tapi data-datanya belum begitu detail,” katanya.
“Saya sebenarnya sedang mengumpulkan data-data, yang datanya tersebar di beberapa instansi lagi baik untuk tanahnya di LAPAN, dan hujannya dari BMKG. Nah itu kalau memang seluruhnya bersinergi tentunya tim analisisnya lebih cepat,” tutur Iwan.
Lalu siapa yang berwenang melakukan analisis terkait kejadian banjir di Kalsel ini? “Terkait siapa yang berwenang melakukan analisis tentunya seluruhnya menurut Undang-undang ada di Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menganalisis sebenarnya apa sih yang menjadi faktor penyebab. Tetapi harus didukung oleh peneliti-peneliti terkait kebencanaan itu tadi,” kata Iwan.
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.