Melalui posting-an di medsos resmi pada Minggu (31/1), pihak berwenang mengutip departemen kesehatan kota dan seorang dokter untuk membuktikan jika video itu tidak asli.
Postingan tersebut mengakui petugas medis Shijiazhuang telah menggunakan usapan anal pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit yang juga menderita diare. Tetapi ditegaskan metode tersebut tidak pernah digunakan selama pengujian massal komunitas.
Otoritas memastikan pasien tidak akan mengalami ketidaknyamanan setelah tes anal tersebut.
Outlet propaganda Beijing, Global Times kemarin menerbitkan artikel berbahasa Inggris berjudul “You won't walk like penguin after anal swab coronavirus test” karena bertujuan untuk menyampaikan pesan resmi kepada pembacanya.
Diketahui, ibu kota China, Beijing, mulai menggunakan metode pendeteksian “derriere” selama uji coba massal minggu lalu setelah seorang bocah lelaki berusia sembilan tahun dinyatakan positif terkena virus.
Beberapa petugas medis percaya jejak virus corona baru dapat bertahan lebih lama di sistem pencernaan seseorang daripada di sistem pernapasan.
Karena itu, Wakil Kepala Dokter Rumah Sakit You'an Beijing, Dr Li Tongzeng mengatakan usapan anal memiliki akurasi yang lebih tinggi daripada usap tenggorokan dan hidung.
“Kami menemukan beberapa pasien tanpa gejala cenderung pulih dengan cepat. Ada kemungkinan tidak akan ada jejak virus di tenggorokan mereka setelah tiga hingga lima hari,” terangnya kepada CCTV.