PERTH - Kebakaran hutan yang berkobar di luar kota Perth, Australia Barat, telah memaksa penduduk di dekatnya untuk mengungsi, sementara kota itu tetap dalam penguncian (lockdown) virus corona.
Kobaran api, yang dipengaruhi angin kencang, telah membesar hingga dua kali lipat dalam semalam hingga garis depan api mencapai 75 kilometer (km), kata para pejabat. Setidaknya 30 rumah diyakini hancur akibat kebakaran ini.
BACA JUGA: Lebih dari 60.000 Koala Mati Atau Luka Akibat Kebakaran Hutan Australia
Kebakaran Wooroloo, pertama kali dilaporkan pada Senin (1/2/2021) tengah hari, telah berkembang menjadi kobaran api yang bergerak cepat dan tidak menentu yang dalam semalam melesat melalui perbukitan dan lembah yang mengelilingi barat laut kota.
Penduduk Perth bangun pada Selasa (2/2/2021) karena asap menyelimuti seluruh kota dan orang-orang melaporkan abu jatuh dari langit di lokasi yang jauhnya 50 km dari garis depan api. Orang-orang telah diberitahu untuk melarikan diri ke tempat yang aman meskipun itu berarti melanggar penguncian Covid-19.
Perdana Menteri Australia Barat (WA) mengatakan negara bagian itu menghadapi situasi yang "sangat memprihatinkan dan serius".
"Saat ini WA sedang memerangi dua jenis keadaan darurat, darurat kebakaran yang berbahaya dan darurat kuncian Covid-19," kata Mark McGowan sebagaimana dilansir BBC.
BACA JUGA: Kebakaran Hutan Australia Ancam Situs Warisan Dunia Pulau Fraser
Namun dia mendesak mayoritas penduduk ibu kota negara bagian, yang tidak berada dalam bahaya kebakaran, untuk tetap tinggal di rumah mereka untuk mengurangi risiko penyebaran virus.
Saat ini Perth digolongkan dalam risiko sangat rendah Covid-19 karena hanya melaporkan satu kasus lokal. Tetapi kota berpenduduk dua juta orang itu memasuki penguncian lima hari pada Minggu (31/1/2021) setelah kasus itu, infeksi lokal pertama di Australia Barat dalam 10 bulan, ditemukan.
"Ini akan menjadi hari yang sangat menantang bagi semua orang yang terlibat. Mohon lakukan apa saja untuk membuat Anda dan keluarga Anda aman dan saling menjaga," kata McGowan.