Kudeta Militer Myanmar, Warga Pukul Panci dan Wajan, Bunyikan Klakson Sebagai Bentuk Protes

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 04 Februari 2021 05:59 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 04 18 2356139 kudeta-militer-myanmar-warga-pukul-panci-dan-wajan-bunyikan-klakson-sebagai-bentuk-protes-d44SggnrMq.jpg Warga pukul panci dan wajan di jalanan (Foto: BBC Indonesia)

YANGON – Perlawanan terhadap kudeta militer di Myanmar menguat, ditandai aksi warga di kota terbesar Yangon yang memukul panci dan wajan, serta membunyikan klakson mobil.

Warga terlihat memukul panci atau kaleng sebagai protes terhadap kudeta militer, Selasa (02/02) malam.

Petugas kesehatan di sejumlah kota besar juga merencanakan mogok kerja, sedangkan para aktivis menyerukan aparat sipil negara menolak bekerja untuk pemerintahan yang baru.

Namun sepertinya kontrol militer sangat kuat.

Seruan untuk membebaskan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi bergema di Myanmar, yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya sejak penangkapan pada Senin (01/02) dini hari.

(Baca juga: Dinyatakan Bersalah Melawan Iran, Akademisi Inggris Melarikan Diri Melalui Pegunungan)

Bersamaan dengan penahanan Suu Kyi, lebih dari 100 anggota parlemen ditahan oleh militer di akomodasi mereka di ibu kota, Nay Pyi Taw. Kini, sebagian dari mereka dikabarkan telah dibebaskan.

Militer mengambil alih kekuasaan pada Senin dini hari dan memberlakukan kondisi darurat selama setahun setelah menuduh partai Suu Kyi melakukan kecurangan atas kemenangan pemilu baru-baru ini.

Partai yang dipimpin Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) menuntut pembebasan Suu Kyi. Partai itu juga meminta militer untuk menerima hasil pemilu pada November, yang dimenangi oleh NLD dengan lebih dari 80% suara.

(Baca juga: UNICEF Umumkan Kesepakatan Produksi Vaksin bagi Negara-negara Miskin)

Akan tetapi, militer telah menunjuk komisi pemilihan dan kepala polisi baru. Padahal, komisi pemilihan sebelumnya tidak menemukan bukti kecurangan pemilu.

Myanmar, yang juga dikenal sebagai Burma, dikuasai oleh militer hingga 2011, ketika pemerintah sipil dilantik.

  • Apa yang terjadi saat ini di Myanmar?

Negara itu kini dalam kondisi tenang setelah kudeta, dengan pasukan militer berpatroli di semua kota besar dan jam malam diberlakukan. Sistem komunikasi sempat terganggu ketika kudeta terjadi namun berangsur membaik pada Selasa (02/02) pagi.

Saat malam tiba pada hari Selasa, klakson mobil dan pukulan panci masak terdengar di jalan-jalan Yangon sebagai tanda protes warga atas kudeta yang terjadi.

Kelompok pemuda dan pelajar juga menyerukan kampanye pembangkangan sipil, dan halaman Facebook untuk kampanye tersebut disukai oleh lebih dari 100.000 pengguna Facebook.

Dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah mengatakan mereka akan mogok kerja mulai Rabu (03/02) untuk mendorong pembebasan Suu Kyi.

Beberapa petugas medis menggunakan simbol sebagai protes diam-diam.

Setidaknya satu dokter telah berhenti bekerja sebagai bentuk protes, dengan mengatakan "kudeta semacam itu tidak dapat ditoleransi sama sekali".

Dr Naing Htoo Aung, seorang ahli anestesi berusia 47 tahun di Rumah Sakit Mongywa di Wilayah Sagaing, mengatakan kepada BBC Burma:

"Saya mengundurkan diri karena saya tidak bisa bekerja di bawah seorang diktator militer yang tidak peduli dengan negara dan rakyatnya. Ini adalah tanggapan terbaik yang bisa saya berikan pada mereka."

Dokter lain yang terlibat dalam kampanye menuntut pembebasan Suu Kyi, Myo Thet Oo, berkata kepada kantor berita Reuters: "Kami tidak bisa menerima diktator dan pemerintah yang tidak dipilih.

"Mereka bisa menahan kami kapan saya. Kami memutuskan untuk menghadapinya... Kami semua telah memutuskan untuk tidak datang ke rumah sakit"

Tampuk kekuasaan kini dipegang oleh Panglima Tertinggi Min Aung Hlaing. Sebelas menteri dan deputi, termasuk di bidang keuangan, kesehatan, dalam negeri dan luar negeri, telah diganti.

Dalam pertemuan pertama kabinetnya pada Selasa, Min Aung Hlaing mengulangi bahwa pengambilalihan itu "tak terelakkan" setelah militer membuat tudingan adanya kecurangan pemilu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini