Berkunjung ke Negeri dalam Pelukan Awan di Majalengka

Inin Nastain, Koran SI · Kamis 04 Februari 2021 10:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 04 525 2356268 berkunjung-ke-negeri-dalam-pelukan-awan-di-majalengka-LdNILCLoAJ.jpg Foto: Inin

MAJALENGKA - Kabut tebal selalu "memeluk" perkampungan ini. Dari pagi, siang, sore, malam, hingga ke pagi lagi, gumpalan kabut putih menyelimuti rumah-rumah penduduk.

Sinar matahari seolah enggan menyapa perkampungan penduduk yang berdiri sejak 2014 silam itu. Jarak pandang pun menjadi terbatas terhalang oleh kabut tebal. Awan seolah "memeluk" Dusun Jotang, tempat relokasi warga Dusun Cigintung itu.

Menurut warga, kabut selalu menyelimuti perkampungan setiap musim hujan tiba. Biasanya berlangsung selama satu bulan penuh pada Januari. Namun terkadang bisa dua bulan lebih.

Dusun Jotang, Desa Jagamulya, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka yang selalu diselimuti kabut ini berada di antara perbukitan. Meski bukan berada di lereng gunung, tetapi Dusun Jotang berada di dataran cukup tinggi.

Pemandangan tersebut disaksikan reporter MNC Portal Indonesia (MPI) yang berkunjung ke Dusun Jotang pada Rabu (3/2/2021). “Setiap masuk musim hujan, selalu seperti ini (kampung diselimuti kabut). Biasanya Januari. Tapi sekarang Februari masih seperti ini. Ini full, dari pagi sampai pagi lagi, enggak ada panas matahari,” kata Kepala Dusun (Kadus) Jotang Eding Supardi.

Tahun ini, kondisi berkabut setiap hari sudah berlangsung sekitar satu pekan terakhir. Tahun-tahun sebelumnya, Jotang menjadi ‘Negeri Dalam Pelukan Awan’ selama dua pekan. “Kalau ngejemur pakaian juga enggak bisa kering,” ujar Ending seraya tertawa.

Baca juga: Jelajahi Dusun Cigintung Majalengka, "Desa Mati" yang Dihantam Pergerakan Tanah

Ending menuturkan, saat musim kemarau, suhu udara di Dusun Jotang akan terasa cukup menyengat. “Ketika musim hujan turun kabut, pas masuk kemarau panasnya menyengat, ditambah lagi angin kencang. Jadi, sekarang-sekarang ini, kami lagi jadi negeri di dalam awan,” tutur Ending.

Foto: Inin

Dusun Jotang berdiri sejak ratusan kepala keluarga (KK) warga Dusun Cigintung, Desa Cimuncang, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka, hijrah ke kawasan ini pada 2014 silam.

Pada 2013, warga Dusun Cigintung menjadi korban bencana alam pergerakan tanah. Rumah-rumah mereka di Cigintung tak bisa ditempati lagi karena rusak parah.

Baca juga: 2 Tersangka Adzan Jihad Tak Ditahan, Kapolres Majalengka: Mereka Kooperatif

Eding Supardi, yang pernah menjabat sebagai Kadus Cigintung itu mengemukakan, memang tidak semua warga di dusun tersebut pindah ke Dusun Jotang. Selain ada yang pindah keluar kota, beberapa warga juga masih bertahan di Dusun Cigintung.

"Ada 80 KK masih bertahan di sana (Dusun Cigintung), yang daerahnya memang relatif aman. Selain itu, ada juga yang pindah ke luar kota, seperti Cirebon. Di sini (Jotang) saat ini ada 310 KK, karena ada yang pindah juga," tutur dia.

Kehidupan ratusan KK yang sebelumnya tercatat sebagai warga Dusun Cigintung, tutur Ending, memulai hidup baru di Jotang pada 2014 lalu. Proses kepindahan mereka ke daerah baru dalam perjalanannya tidak berjalan mulus.

"Pemerintah sempat akan merelokasi kami ke Cipicung, tapi kami keberatan. Alasannya, akses yang terpencil, budaya kami dengan warga di sana pun tentu berbeda. Kami dari awal menginginkan ke Jotang," tutur Ending.

Setelah melalui proses tidak mudah, akhirnya Eding dan ribuan warga lain bisa pindah sesuai yang diharapkan, Dusun Jotang. "Ini awalnya perkebunan yang dipenuhi pohon-pohon keras. Jadi, kami benar-benar buka dusun baru dari nol," ucapnya.

"Di sini, kami beli tanah sendiri. Namun, untuk kebutuhan membuat rumah ada bantuan dari pemerintah provinsi (Pemprov Jabar). Besaran bantuannya sesuai kebutuhan membuat rumah ukuran 5x6 meter. Semua rumah di sini, awalnya memiliki luas sama, 5x6 meter itu," kata Eding.

Setelah berjalan 8 tahun, sejumlah fasilitas umum (fasum) kini sudah tersedia. Satu masjid Jami (untuk Jumatan) dan masjid-masjid lainnya, kini telah berdiri di Dusun Jotang.

"Saat awal, luas tanah yang dibeli itu dibatasi yakni 10 bata. Dari 10 bata itu, 1,5 bata diserahkan untuk fasum, misalnya jalan. Sekarang kami juga sudah punya masjid. Jadi fasum di sini, hasil gotong royong warga. Alhamdulillah, kami di sini kompak," ujarnya.

Sejak 2014 sampai 2021 ini, Eding memastikan tidak ada warga 'luar' yang tinggal di dusun itu. Kalaupun ada warga baru, itu karena mereka nikah dengan warga Dusun Jotang.

"Jadi murni warga Jotang atau saudara dari warga di sini. Nggak ada pendatang yang benar-benar pendatang tanpa punya ikatan kekeluargaan," ujar Eding.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini