Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Konflik Perebutan Tahta, Kondisi Keraton Solo Disebut Tak Terpelihara

Dita Angga R , Jurnalis-Minggu, 14 Februari 2021 |06:36 WIB
Konflik Perebutan Tahta, Kondisi Keraton Solo Disebut Tak Terpelihara
Foto: Istimewa
A
A
A

JAKARTA - Konflik perebutan tahta di Keraton Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo telah ramai sejak tahun 2004. Dimana konflik dimulai sejak Pakubuwono XII wafat dan tidak menunjuk putra mahkota.

Perebutan tahta ini dilakukan oleh Hangabehi dan Tedjowulan yang masing-masing mendeklarasikan diri sebagai Pakubuwono XIII. Kisruh itupun beberapa kali bergulir hingga pada Kamis 11 Februari lalu disebutkan lima orang terkunci di lingkungan keraton yakni yakni GKR Wandansari atau Gusti Moeng, GKR Timoer Rumbai, dua penari bernama Warna dan Ika, serta seorang pembantu.

Meskipun beberapa pihak berkeinginan menguasai tahta, tapi di saat yang sama kondisi keraton Solo sangat memprihatinkan. Kondisi ini terungkap dari video miliki Gusti Moeng yang sempat terkunci di dalam keraton dan diunggah di akun Youtube Berita Surakarta.

“Pagi jam 6 pagi saya di Keputren yang luar biasa. Sudah rusak. Tidak terpelihara dan disapu pun tidak,” tutur Gusti Moeng.

Baca Juga: Cerita Penari Keraton yang Ikut Terkurung Bersama 2 Putri Raja

“Ini Purwokanti yang dulu untuk meronce bunga, menyiapkan bunga untuk pusaka-pusaka keraton keadaannya sangat memprihatinkan. Ini semak belukar yang sudah tidak pernah disentuh tangan untuk dirapikan,” lanjutnya.

Bahkan pada video tersebut, Gusti Moeng menyebut Pantai Rukmi yang dulu ditinggalinya begitu kotor.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement