Putri Dubai yang Diculik Diberi Silet dan Stopwatch Elektronik untuk Menghancurkan Semangatnya

Susi Susanti, Koran SI · Senin 22 Februari 2021 13:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 22 18 2366186 putri-dubai-yang-diculik-diberi-silet-dan-stopwatch-elektronik-untuk-menghancurkan-semangatnya-ATGHaiRqe1.jpg Putri Latifa dari Dubai (Foto: Daily Mail)

DUBAI - Pengacara Putri Latifa dari Dubai mengklaim jika penjaga meletakkan sekantong silet di kamarnya dan memberinya stopwatch elektronik untuk 'menghancurkan semangatnya'.

Diketahui, beberapa waktu lalu, Putri Latifa, 35, putri penguasa Dubai Syekh Mohammed al-Maktoum, 71, menuduh ayahnya menyandera dia di sebuah vila di Dubai setelah mencoba melarikan diri pada 2018.

Melalui video yang direkam secara diam-diam, sang putri menggambarkan bagaimana upayanya untuk melarikan diri dari sang ayah.

Saat ini, pengacaranya David Haigh dari kampanye Free Latifa, Inggris telah mengungkapkan bagaimana sang putri diberikan stopwatch untuk menghitung waktunya di 'vila penjara', yang terletak di samping hotel bintang tujuh Burj Al Arab, dan juga memberi tahu dia harus tinggal di sana selama satu tahun lagi.

(Baca juga: Disangka Tas Mencurigakan Berisi Bom, Ternyata Saat Dibuka Ada 6 Anak Kucing)

“Latifa pertama kali ditahan di penjara terpencil terpencil bernama Al Awir,” terang Haigh mengatakan kepada The Sunday Express.

Namun pada Mei 2018 dia dipindahkan ke vila penjara - di samping pantai wisata dan hotel bintang tujuh Burj Al Arab - dijaga oleh polisi Dubai, kamera dan bar, dan di sel isolasi.

"Setiap hari, sekitar 30 polisi yang menyandera Latifa akan melakukan yang terbaik untuk mematahkan semangatnya,” terangnya.

Pengacara hak asasi manusia itu kemudian menjelaskan bagaimana dia harus menghubungi NHS 111 untuk meminta nasihat setelah Putri Latifa jatuh sakit karena dicurigai terkena virus corona tahun lalu dan tidak mendapatkan perawatan medis oleh pengawalnya.

(Baca juga: Pispot Tradisional China Dijual Sebagai Keranjang Buah di Amazon, Harganya Bikin Kaget)

Itu terjadi ketika sahabat Putri Latifa menolak klaim dari keluarga penguasa Dubai yang mengatakan dia dirawat di rumah, dan menuduh mereka memenjarakannya.

Tina Jauhiainen mengaku dia bersama sang putri selama pelariannya dan mengatakan temannya sekarang sedang dipenjara.

“Sahabat saya Putri Latifa binti Mohammed al-Maktoum telah dipenjara oleh keluarganya sendiri - dikurung di satu kamar,” terangnya kepada The Telegraph.

“Sungguh konyol bahwa keluarganya mengira mereka dapat mengeluarkan pernyataan semacam ini dan tidak memberikan bukti kehidupan yang sebenarnya. Saya terkejut dan kesal karena ini adalah tanggapan resmi mereka,” jelasnya.

“Saya juga ingin melihat turis memboikot Dubai. Sangat mudah untuk hidup dalam gelembung di sana,” lanjutnya.

Bulan ini Putri Latifa merilis video yang menjelaskan dengan sangat rinci bagaimana upaya melarikan diri dramatisnya tahun 2018 berakhir dengan penangkapannya kembali.

Dalam video tersebut, Latifa menuduh ayahnya memenjarakannya selama tiga tahun pada tahun 2002 ketika dia mencoba melarikan diri dan sekali lagi pada tahun 2018.

Sang putri berkata jika dia dibius dan disiksa atas perintah ayahnya.

“Saya seorang sandera. Dan vila ini telah diubah menjadi penjara. Semua jendela ditutup,” ungkap sang putri.

“Ada lima polisi di luar dan dua polisi wanita di dalam. Aku bahkan tidak bisa keluar untuk mencari udara segar. Jadi pada dasarnya, saya adalah sandera,” lanjutnya.

Sementara itu, sang ayah membantah semua klaim pelecehan dari putrinya, yang merupakan satu dari 30 anak yang dimilikinya dari enam istri.

Minggu ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta bukti dari Uni Emirat Arab jika sang putri masih hidup.

“Kami menyampaikan keprihatinan kami tentang situasi ini sehubungan dengan bukti video yang mengganggu yang muncul minggu ini,” ungkap Juru bicara Kantor PBB untuk Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia, Liz Throssell, saat pengarahan online di Jenewa.

“Kami meminta lebih banyak informasi dan klarifikasi tentang situasi Syekha Latifa saat ini,” urainya.

“Mengingat keprihatinan yang serius tentang Sheykha Latifa, kami telah meminta agar tanggapan pemerintah menjadi prioritas,” lanjutnya.

“Kami memang meminta bukti kehidupan,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini