Bejat! Balai Desa Jadi Tempat Pesta Seks dan Pemerkosaan Pelajar SD

Agregasi Harian Jogja, · Kamis 25 Februari 2021 17:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 25 512 2368328 bejat-balai-desa-jadi-tempat-pesta-seks-dan-pemerkosaan-pelajar-sd-W1o97hBcnT.jpg Foto:Ist

SRAGEN – Peristiwa pemerkosaan anak-anak di bawah umur terjadi di sebuah Balai Desa yang terletak di Kecamatan Sukodono, Sragen, Jawa Tengah. Pemerkosaan itu dilakukan di kamar mandi Balai Desa pada, 12 Desember 2020 silam.

(Baca juga: Korban Penembakan Brutal di RM Cafe Ternyata Prajurit Elite TNI AD)

Ironisnya, perbuatan tercela itu dilakukan saat siang hari dimana pegawai di Balai Desa tersebut tidak berada di lokasi. Aksi pemerkosaan itu bermula ketika P, 14, siswi kelas IX SMP mengajak W, siswi SD berusia 9 tahun bermain di sekitar Balai Desa.

W yang diiming-imingi diberi jajan itu pun mau menuruti kemauan P. Sesampainya di balai desa, ternyata mereka sudah ditunggu oleh tiga teman pria dari P yang juga masih duduk di bangku kelas IX SMP.

(Baca juga: Dibawa ke Rumah Kosong, Bocah 9 Tahun Diperkosa Pesilat)

“Di kamar mandi kelurahan (balai desa), mereka melakukan sesuatu yang tidak cocok dilakukan seorang anak. W dipaksa melakukan hubungan seksual. P threesome dengan dua temannya, sementara W dipaksa melakukan hubungan layaknya suami istri dengan seorang teman pria dari W,” ujar Direktur LBH Mawar Saron Solo, Andar Beniala Lumbanraja, selalui kuasa hukum dari W saat ditemui wartawan di depan Mapolres Sragen, Kamis (25/2/2021).

“W tidak mengenali tiga teman P karena dia baru pertama ketemu dengan mereka. Apakah P sengaja mengajak W dan tiga temannya untuk lakukan pesta seks di balai desa? Mungkin bisa jadi seperti itu. Kami belum tahu pasti karena P juga belum dimintai keterangan oleh polisi,” papar Andar.

Sebelumnya, W juga menjadi korban perkosaan yang dilakukan S, 38, anggota perguruan silat di Sukodono. Belum selesai kasus tersebut, bocah SD itu kembali menjadi korban perkosaan oleh teman P di balai desa.

“Sekarang psikologi dari W sedikit terguncang. Dia agak trauma kalau bertemu dengan laki-laki. Makanya kalau bertemu rombongan anak lelaki yang nongkrong, dia suka marah-marah. Dia belum mau terbuka saat diajak berbincang dengan laki-laki. Dia mau terbuka kalau ditanya sesama perempuan seperti saya,” ujar Desideria Anindita Sari, selaku pendamping W dari LBH Mawar Saron Solo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini