Kisah Pelaut Belanda Bertolak dari Jakarta untuk Mencari Benua yang Hilang

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 02 Maret 2021 06:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 02 18 2370568 kisah-pelaut-belanda-bertolak-dari-jakarta-untuk-mencari-benua-yang-hilang-weodhDhYx8.jpg Kisah pelaut Belanda (Foto: Universal History Archive)

  • Penemuan yang melelahkan

Lebih dari seabad setelah Tasman menemukan Selandia Baru pada 1642, pembuat peta asal Inggris James Cook dikirim dalam perjalanan ilmiah untuk menjelajahi belahan Bumi selatan.

Perintah resminya adalah mengamati orbit Venus di antara Bumi dan Matahari, untuk menghitung seberapa jauh jarak Matahari.

Tetapi dia juga membawa sebuah amplop tertutup, yang hanya boleh dibuka setelah tugas pertamanya selesai. Di dalam amplop terdapat misi rahasia yang memerintahkannya menemukan benua selatan — dipercaya Cook berlayar di atas benua ini, sebelum mencapai Selandia Baru.

Petunjuk nyata pertama keberadaan Zealandia dikumpulkan oleh naturalis Skotlandia, Sir James Hector, yang melakukan serangkaian pelayaran untuk guna mensurvei sejumlah pulau lepas di pantai selatan Selandia Baru pada 1895.

Setelah mempelajari keadaan geologi mereka, dia menyimpulkan bahwa Selandia Baru adalah "sisa dari barisan pegunungan yang membentuk puncak dari sebuah wilayah benua besar yang membentang jauh ke selatan dan timur, dan yang sekarang tenggelam…".

Terlepas dari terobosan awal ini, pengetahuan tentang keberadaan Zealandia masih tidak jelas, dan sangat sedikit kemajuan yang terjadi hingga tahun 1960-an.

"Semua terjadi dengan lambat di bidang ini," kata Nick Mortimer, ahli geologi di GNS Science yang memimpin studi Zealandia pada 2017 tadi.

Kemudian pada 1960-an, para ahli geologi akhirnya menyepakati definisi benua — secara garis besar, wilayah geologi dengan ketinggian tinggi, terdiri dari berbagai macam batuan dan kerak yang tebal. Benua juga harus besar.

"Tidak bisa bila ukurannya kecil," kata Mortimer. Ini memberi batasan-batasan untuk para ahli geologi — jika mereka bisa mengumpulkan semua bukti, mereka bisa membuktikan bahwa benua kedelapan adalah nyata.

Namun, misi itu terhenti — menemukan benua adalah misi yang sulit dan mahal, dan Mortimer menekankan bahwa penemuan ini tidaklah mendesak.

Lalu pada 1995, ahli geofisika Amerika Bruce Luyendyk kembali menggambarkan wilayah tersebut sebagai benua dan menyarankan untuk menyebutnya Zealandia. Dari sana, Tulloch menyebutkan penemuan ini sebagai kurva eksponensial.

Di waktu bersamaan, "Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut" mulai berlaku, dan pada akhirnya memberikan motivasi serius untuk menemukan benua tersebut.

Konvensi itu menyatakan bahwa negara-negara dapat memperluas wilayah hukum mereka di luar Zona Ekonomi Eksklusif, yang mencapai 200 mil laut (370km) dari garis pantai, untuk mengklaim "landas kontinen yang diperpanjang" — dengan semua kekayaan mineral dan minyak yang terkandung di dalamnya.

Jika Selandia Baru dapat membuktikan bahwa ia adalah bagian dari benua yang lebih besar, maka negara ini dapat meningkatkan wilayahnya sebesar enam kali lipat.

Tiba-tiba ada banyak dana untuk perjalanan dan survei ke wilayah tersebut, dan bukti-bukti yang dikumpulkan berangsur-angsur bertambah. Dengan setiap sampel batu yang dikumpulkan, keberadaan Zealandia semakin terkuak.

Perkembangan terakhir datang dari data satelit, yang dapat digunakan untuk melacak variasi kecil dalam gravitasi di berbagai bagian kerak Bumi untuk memetakan dasar laut.

Dengan teknologi ini, Zealandia jelas terlihat sebagai massa berbentuk aneh dengan ukuran nyaris sebesar Australia.

Saat keberadaan benua tersebut akhirnya dibuka pada dunia, terbuka juga lah wilayah maritim terbesar di dunia.

"Ini agak keren," ujar Mortimer.

"Jika Anda memikirkannya, setiap benua di planet ini memiliki beberapa negara berbeda, tapi hanya ada tiga negara di Zealandia,” terangnya.

Selain Selandia Baru, benua ini mencakup pulai Kaledonia Baru — koloni Prancis yang terkenal dengan laguna-laguna memesona — dan wilayah kecil milik Australia, Pulau Lord Howe dan Piramida Ball. Wilayah yang terakhir disebut digambarkan oleh seorang penjelajah Abad ke-18 sebagai "tampak tidak lebih besar dari sebuah perahu".

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini