“Itu memilukan bagi kami karena ayah saya dan saya terus memintanya untuk terus melakukannya, tetapi dia tidak bisa melakukannya,” ujarnya.
“Karena ketidakmampuan belajarnya Paramjeet, dia tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi padanya, dan saya kira dia berpikir bahwa topeng itu hanya menghalangi aliran udara daripada membantunya dan dia terus menariknya,” lanjutnya.
“Kami menghabiskan beberapa jam terakhir memohon, memintanya untuk tetap memakai, sehingga dia bisa mendapatkan oksigen yang dia butuhkan ... tapi dia tidak bisa melakukannya, dan terus melakukannya, sungguh memilukan bagi kami untuk melakukannya,” bebernya.
Kondisi Paramjeet memburuk, dan dia menderita kejang hebat sebelum meninggal pada 5 Januari lalu. Kashmir yang berusia 65 tahun diketahui sangat trauma melihat putri tertuanya meninggal.
Indy mengatakan ibunya, Kashmir, berjuang melawan virus selama tiga minggu. Namun meninggal setelah keluarga memutuskan untuk mematikan mesin pendukung kehidupan pada 2 Februari lalu.
Dia membuat halaman JustGiving untuk mengenang saudara perempuan dan ibunya untuk mengumpulkan dana untuk The Royal Wolverhampton NHS Trust Charity. Donasi ini telah mengumpulkan 11.000 poundsterling (Rp218 juta).
“Sungguh merendahkan hati ketika keluarga yang telah kehilangan orang yang dicintai ingin memberikan sesuatu kembali dengan mendukung pekerjaan luar biasa dari Trust dan staf kami yang bekerja keras,” terang Leanne Bood, koordinator penggalangan dana untuk Trust.
“Kami kewalahan karena halaman tersebut telah mengumpulkan hampir 11.000 poundsterling (Rp218 juta) dalam waktu yang sesingkat itu. Terima kasih kepada semua orang yang telah berkontribusi, ini akan sangat membantu Unit Perawatan Intensif dan Unit Medis Akut,” tambahnya.
(Susi Susanti)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.