Demonstrasi Antikudeta Myanmar Berlanjut, 1 Orang Tewas Ditembak

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 05 Maret 2021 16:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 05 18 2373003 demonstrasi-antikudeta-myanmar-berlanjut-1-orang-tewas-ditembak-orSC4Qbwrh.jpg Demonstrasi antikudeta di Yangon, Myanmar, 4 Maret 2021. (Foto: Reuters)

NAYPYIDAW - Polisi di Myanmar menembaki pengunjuk rasa dan menewaskan satu orang dalam demonstrasi antikudeta, Jumat (5/3/2021). Aksi brutal polisi itu terjadi di saat junta militer dihujani kecaman internasional dan Dewan Keamanan PBB bersiap menggelar pertemuan membahas krisis di negara itu.

Para demonstran yang menuntut pemulihan pemerintahan terpilih dari tokoh demokrasi Aung San Suu Kyi telah menggelar unjuk rasa sejak kudeta terjadi pada 1 Februari. Mereka berjanji akan mengadakan lebih banyak demonstrasi di beberapa kota dua hari setelah polisi menewaskan lebih dari puluhan orang dalam bentrokan pada Rabu (3/3/2021).

BACA JUGA: Menlu Singapura: Tentara Gunakan Senjata pada Rakyat Sendiri "Aib Nasional"

Puluhan ribu demonstran terlihat melakukan protes di kota terbesar kedua Myanmar, Mandalay, yang dihadang pasukan keamanan. Polisi melepaskan tembakan untuk membubarkan kerumunan, dan satu orang ditembak di tenggorokan.

"Saya pikir dia berusia sekitar 25 tahun, tetapi kami masih menunggu anggota keluarga," kata seorang dokter yang memeriksa korban kepada Reuters melalui telepon.

Di kota utama Yangon, polisi menembakkan peluru karet dan granat kejut untuk membubarkan pengunjuk rasa yang telah diikuti oleh sekira 100 dokter berjas putih, kata saksi mata.

Kerumunan juga berkumpul di Kota Pathein, di sebelah barat Yangon, kata seorang saksi mata.

BACA JUGA: PBB: Hari Paling Berdarah di Myanmar, 50 Orang Tewas, Aparat Gunakan Peluru Tajam

Pada Kamis (4/3/2021), polisi membubarkan aksi unjuk rasa dengan gas air mata dan tembakan di beberapa kota tetapi tindakan keras mereka lebih terkendali daripada pada Rabu, ketika PBB mengatakan 38 orang tewas pada hari protes paling berdarah.

Kepala hak asasi manusia PBB Michelle Bachelet menuntut pasukan keamanan menghentikan apa yang dia sebut sebagai "tindakan keras kejam mereka terhadap pengunjuk rasa damai." Bachelet mengatakan lebih dari 1.700 orang telah ditangkap, termasuk 29 wartawan.

Pasokan listrik juga dilaporkan putus di beberapa bagian Myanmar pada Jumat, yang menurut seorang pejabat terkait terjadi karena kegagalan sistem.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini