Biarawati Myanmar Tantang Aparat: "Jika Anda Perlu Membunuh, Silakan Tembak Saya"

Sabtu 13 Maret 2021 09:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 13 18 2377075 biarawati-myanmar-tantang-aparat-jika-anda-perlu-membunuh-silakan-tembak-saya-HR4eAGIcCa.jpg Suster Ann Rose memohon agar para junta militer Myanmar meninggalkan komplek gereja/Foto: Reuters

YANGON - Keberanian biarawati Katolik tentara Myanmar demi menyelamatkan nyawa pengunjuk rasa di Kota Myitkyina, menuai pujian. Suster Ann Rose Nu Tawng menantang aparat dengan menyatakan, "Jika Anda Perlu Membunuh, Silakan Tembak Saya".

Suster Ann Rose Nu Tawng kini turut dipandang menjadi simbol persatuan di Myanmar. Kini, salah satu negara anggota ASEAN itu tercabik-cabik oleh kudeta militer.

Aksi yang diabadikan dalam foto menjadi viral dan berita utama di seluruh dunia. Berlutut di tanah, dengan tangan terentang lebar, suster Ann Rose memohon kepada para perwira itu agar meninggalkan kompleks Gereja.

"Saya tidak akan berdiri sampai kamu pergi," ujarnya kepada sekelompok tentara seperti dilansir BBC, Sabtu (13/3/2021).

Baca juga: Demonstran Cantik Myanmar yang Ditembak Mati Sumbangkan Organ Tubuhnya

"Jika Anda benar-benar perlu membunuh, silakan tembak saja saya. Saya akan menyerahkan nyawa saya," sambung suster itu kepada para petugas.

Protes massal terjadi di negara-negara Asia Tenggara semenjak militer merebut kekuasaan pada 1 Februari dalam sebuah kudeta. Pihak militer mengklaim ada kecurangan dalam pemilihan umum baru-baru ini.

Setidaknya 54 orang tewas dalam aksi protes yang menyerukan diakhirinya pemerintahan militer dan pembebasan para pemimpin pemerintah terpilih negara itu, termasuk Aung San Suu Kyi.

Berbicara kepada BBC Burma setelah insiden di Myitkyina, Suster Ann Rose menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya saat itu.

"Saya mengatakan kepada mereka 'jika Anda benar-benar perlu membunuh, saya bisa menyerahkan hidup saya', kemudian mereka pergi."

"Ada anak-anak yang terperangkap dan mereka tidak tahu harus lari ke mana. Mereka sangat ketakutan. Saya merasa perlu berkorban," katanya.

"Anak-anak itu kemudian mengelilingi saya, mereka kelaparan, kehausan dan ketakutan, serta tidak berani pulang," tambah suster itu.

Tetapi aparat militer terus menembak ke arah kerumunan pengunjuk rasa anti-kudeta di wilayah tersebut.

"Rasanya dunia sedang runtuh. Banyak suara tembakan sehingga saya harus lari ke arah gereja. Saya meneriaki orang-orang agar tenang, tetapi tidak ada yang bisa mendengar saya pada saat itu," paparnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini