Sidik Jari Suku Anak Dalam Berbeda, Proses Perekaman E-KTP Sempat Terhambat

Azhari Sultan, Okezone · Senin 15 Maret 2021 09:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 15 340 2377808 sidik-jari-suku-anak-dalam-berbeda-proses-perekaman-e-ktp-sempat-terhambat-nnaxHeWO3F.JPG Mensos Tinjau Perekaman E-KTP (Foto: Azhari Sultan)

JAMBI - Proses perekaman data Nomor Induk Kependudukan (NIK), Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) bagi warga Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Jelutih, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari, Jambi tidaklah mudah seperti yang dibayangkan.

Pasalnya, banyak kendala yang dihadapi oleh petugas Dukcapil, Kemendagri. Agus, salah satu petugas mengaku selama sepekan bertugas harus banyak bersabar dengan tingkah laku warga SAD.

Menurutnya, warga SAD harus dirayu dan dikasih pengertian sehingga proses perekaman e-KTP bisa berjalan sukses. Tidak sedikit, ada kejadian lucu dari warga SAD saat melakukan perekaman.

Misalnya, saat mereka dihadapkan kamera untuk mengambil poto diri di KTP, ada saja tingkah kocak yang ditimbulkannya.

"Ya, saat diminta berposisi tubuh tegak, warga SAD malah berdiri tegak. Jadi kita harus sabar dan pandai kasih pengertian," ungkapnya, Senin (15/3/2021).

Baca Juga: Warga Suku Anak Dalam Akhirnya Dapat E-KTP, Bisa Akses Bantuan hingga Pendidikan

Dia menambahkan, belum lagi diminta sidik jari. Sidik jari mereka berbeda dari orang pada umumnya. "Sidik mereka pecah atau kasar. Mungkin banyak aktivitas di kawasannya, kayak bekas kena duri dan faktor lainnya," imbuhnya.

"Mereka juga tidak bisa tanda tangan. Belum lagi dari bahasa yang tidak dimengerti. Tapi, Alhamdulillah akhirnya mereka bersedia untuk membuat e-KTP," tukas Agus.

Diakuinya, salah satu kendala yang cukup rumit saat para perempuan warga SAD. Pasalnya, mereka secara adat tidak boleh di poto.

"Mereka takut kalau di poto, secara kepercayaan akan ada Dewa yang marah. Bisa berdampak ke diri dan keluarganya," tutur Agus.

Kendala lainya, mereka lupa kapan dilahirkan. "Saat kita tanya usia, mereka tidak tahu tanggal, bulan dan tahun kapan lahirnya," katanya.

Keberhasilan pihaknya bisa membuat warga SAD merekam e-KTP juga berkat pendekatan ke para Tumenggung dan pemangku adat mereka.

"Bagi yang perempuan, didampingi suaminya. Bila masih gadis didampingi keluarga dekatnya. Bila tidak ada, didampingi pemangku adat dan Tumenggung," terang Agus.

"Ini dokumen sangat diperlukan negara, selain untuk keperluan identitas juga untuk menerima sejumlah bantuan sosial," tandasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini