Chance Briggs, direktur Save the Children di Mozambik, mengatakan laporan serangan terhadap anak-anak "membuat kami sakit hati".
"Staf kami meneteskan air mata saat mendengar cerita penderitaan yang diceritakan oleh ibu-ibu di kamp pengungsian," katanya.
Pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang eksekusi ekstra-yudisial menggambarkan tindakan para militan sebagai "kejam di luar kata-kata".
Ini bukan pertama kalinya ada laporan tentang pemenggalan kepala di wilayah tersebut.
November lalu, media pemerintah melaporkan bahwa lebih dari 50 orang telah dipenggal kepalanya di lapangan sepak bola di Cabo Delgado.
Pada April tahun lalu, puluhan lainnya dipenggal atau ditembak mati dalam serangan di sebuah desa.
Kelompok hak asasi manusia mengatakan pasukan keamanan juga melakukan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk penangkapan sewenang-wenang, penyiksaan dan pembunuhan, selama operasi melawan para jihadis.
Pemerintah Mozambik telah meminta bantuan internasional untuk memadamkan pemberontakan.
Pada Senin (15/3/2021), pejabat kedutaan Amerika Serikat (AS) di Ibu Kota Maputo mengatakan personel militer Amerika akan menghabiskan dua bulan untuk melatih tentara di Mozambik, serta menyediakan "peralatan medis dan komunikasi".
"Perlindungan sipil, hak asasi manusia, dan keterlibatan masyarakat adalah inti dari kerja sama AS dan sangat penting untuk secara efektif memerangi ISIS di Mozambik," kata pernyataan kedutaan.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.