Dendam Membara, Wanita Ini Robohkan Rumah Mantan Suaminya

Tritus Julan, Koran SI · Selasa 16 Maret 2021 17:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 16 519 2378806 dendam-membara-wanita-ini-robohkan-rumah-mantan-suaminya-i1uoaNKEd8.jpg Foto: MNC Media

MOJOKERTO - Rumah milik Kasnan warga Dusun Tegalan, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto terpaksa dibongkar. Gara-garanya, pria berusia 50 tahun itu, tidak bisa memenuhi permintaan Am (23) anak dari istri pertamanya Ainun Jariyah (44) yang masih tinggal satu desa dengan Kasnan.

(Baca juga: Tinggal Gandeng 1 Parpol, Qodari: Peluang Airlangga Hartarto Maju Pilpres Sangat Terbuka!)

Ainun yang sudah bercerai selama 20 tahun itu menuntut agar rumah sederhana berukuran 6 X 12 meter yang dulu dibangun saat membangun mahligai rumah tangga dengan Kasnan, diratakan dengan tanah. Kasnan yang kini sudah membina biduk rumah tangga dengan istrinya barunya, akhirnya terpaksa tinggal di gubuk bambu yang dibangun persis di samping rumahnya yang roboh.

"Minggu kemarin itu dibongkar, sekitar pukul 09.00 WIB. Waktu pembongkaran ada pak Kades (Kepala Desa) juga dan semua keluarga saya," kata Kasnan, Selasa (16/3/2021).

(Baca juga: Polisikan Klinik Kecantikan, Model Cantik Ini Jadi Korban Filler Payudara)

Bapak tiga anak ini mengungkapkan, awal mula prahara yang menimpanya itu berawal saat  Am, anak dari istri pertamanya datang ke rumah. Perempuan muda itu meminta kepada Kasnan agar bisa menempati rumah yang selama ini ditinggali bersama keluarga barunya. Karena, Am tak lama lagi akan menikah. Alasannya, rumah tersebut dibangun saat ibunya, Ainun masih menjadi istri Kasnan.

"Ceritanya begini, anak saya ke sini minta rumah, ya saya suruh nempati karena ini bukan milik saya tapi mash milik keluarga. Setelah saya jelaskan, ia pulang. Kemudian lain hari ke sini lagi sama suaminya, dia bilang minta dikasih kembalian untuk rumah itu. Jumlahnya ya semampu saya, tapi saya tidak punya uang," ungkap Kasnan memulai cerita.

Selang beberapa waktu kemudian, An kembali datang ke rumah Kasnan dan meminta untuk melihat rumahnya yang ditinggali bersama sang suami. Ketika itu, Am mengeluh kondisi rumahnya yang berantakan. Kepada Kasnan, Am meminta agar rumahnya diperbaiki. Kasnan pun menyanggupi, namun pekerjaannya sebagai kuli bangunan, membuat Kasnan tidak bisa seketika itu untuk memperbaiki rumah Am.

"Saya bilang dua bulan lagi. Saya berencana jualkan kambing, untuk membelikan keramik 20 meter sama pasir. Terus itu (Am) minta dibuatkan lemari, saya cuma bilang iya. Karena saya tidak punya uang saat itu," imbuhnya sembari memungut puing-puing bata merah sisa dari tembok rumah yang telah ambruk itu.

Namun tiba-tiba Kasnan mendapatkan surat panggilan ke Balai Desa Trowulan. Tak kunjung ditepati janji Kasnan, membuat mantan istrinya Ainun kecewa. Ia lantas meminta bantuan pemerintah desa untuk memediasi. Awalnya Kasnan enggan mendatangi panggilan itu, namun akhirnya setelah tiga kali dikirim surat panggilan, ia pun menyempatkan datang.

"Saya tidak datang karena saya repot kerja. Saat di Balai Desa ada Kades, Kasun, RT, mantan istri saya. Dia (matan istri) minta susukan rumah karena dia ikut membangun. Saya tanya minta berapa, dia jawab Rp30 juta," terang Kasnan.

Mediasi yang dilakukan di kantor Balai Desa Trowulan pada 10 Maret 2021 itu berjalan buntu. Tidak ada titik terang antara Kasnan dengan bekas istrinya Ainun. Hingga akhirnya Ainun mencetuskan agar rumah tersebut dibongkar dan dibagi menjadi dua. Karena tak punya pilihan, Kasnan pun tak bisa menolak dan menyetujui pembongkaran rumah tersebut.

"Waktu itu saya bilang kalau saya tidak punya uang. Terus dia (Ainun) bilang dibongkar saja, ya sudah saya setuju digempur. Saya diminta tanda tangan ya sudah saya tanda tangani. Hingga akhirnya dibongkar kemarin itu," papar Kasnan.

Kasnan pun kini hanya bisa pasrah. Di bilik bambu sederhana berukuran 5,5 X 8 meter itu kini Kasnan tinggal bersama dua anak yang masih berusia 9 dan 5 tahun, serta seorang istri. Meski tak memiliki rumah, Kasnan mengaku sudah lega, karena mantan istrinya tak lagi bisa mengusik biduk rumah tangganya kembali. Ia pun berencana membangun tempat tinggal yang anak untuk hidup bersama keluarganya saat ini.

"Saya sudah lega, saya juga legowo. Dengan begini masalah sudah selesai. Memang itu dulu (rumah) dibangun berdua, kalau saat itu mungkin uang dia sekitar Rp10 juta. Karena saya juga dibantu orang tua. Kalau tanah itu masih statusnya milik orang tua saya," tandas Kasnan.

Sementara itu, Ainun tak menampik jika ia merupakan inisiator pembongkaran rumah tersebut. Lantaran mantan suaminya enggan untuk memberian kembalian atas bangunan rumah yang dulu didirikan saat ia dan Kasnan masih menjadi pasangan suami istri.

"Ia memang saya (inisiator) karena dia tidak mau nyusuki (memberikan pengembalian uang). Ya soalnya hati saya sakit tidak karu-karuan karena dibikin sakit hati. Selama 20 tahun saya memendam itu, kok enak saya yang membangun kemudian ditinggali sama istri yang sekarang, kata Ainun saat ditemui di Balai Desa Trowulan.

Dikatakan  Ainun, sejak tiga tahun lalu Am sudah bertemu dengan Kasnan. Ia meminta agar Kasnan pergi dari rumah tersebut. Karena rumah itu merupakan hak anaknya. Ketika itu, lanjut Ainun, Kasnan juga sudah menyetujui untuk pergi dari rumah tersebut dan membangun rumah di sebelahnya. Namun hingga kemarin sebelum dibongkar, Kasnan nyatanya masih tinggal di tempat itu.

"Saya jengkelnya itu, waktunya anak mau nempati tapi tidak mau pergi. Padahal sudah berkali-kali dikasih tahu. Sekitar 3 tahun yang lalu, sebelum anak saya menikah pokoknya sudah dikasih tahu untuk pindah," terang Ainun.

Ainun membantah jika ia hanya mengeluarkan duit sekitar Rp10 juta untuk pembangunan rumah tersebut. Menurutnya, justru Kasnan yang sejak dulu tidak pernah memberikan nafkah kepada sang istri. Lantaran Kasnan tidak pernah bekerja, justru Ainun yang banting tulang bekerja sebagai buruh jahit untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Banyak uang saya karena saya bekerja menjahit, dia pekerjaannya hanya mancing. kalau tidak ngemis-ngemis saya tidak diberi untuk belanja. Saya lupa berapa dulu, beda (nilainya) uang sekarang dengan yang dulu. Saya menuntut bangunan yang berdiri itu, karena tanah itu milik ibunya," papar Ainun.

Kini rumah tersebut sudah selesai dibongkar. Puing-puing berupa kusain, bata, genting, besi sudah dikumpulkan. Sesuai dengan isi perjanjian, material bangunan sisa pembongkaran itu akan dibagi menjadi dua. Namun, Ainun kini justruk menolak dan enggan menerima semua benda tersebut.

"Itu perjanjian dibagi, tapi saya tidak mau karena itu uang panas," tandas Ainun saat didampingi Am.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini