Share

Ancam Bunuh Biden dan Ketua DPR, Docter Didakwa Setelah Menyerahkan Diri

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 17 Maret 2021 20:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 17 18 2379513 ancam-bunuh-biden-dan-ketua-dpr-docter-didakwa-setelah-menyerahkan-diri-EI4OuifNmN.JPG Presiden Amerika Serikat Joe Biden. (Foto: Reuters)

LANSING - Jaksa penuntut Negara Bagian Michigan, Amerika Serikat (AS) telah mendakwa seorang pria berusia 21 tahun atas tuduhan ancaman pembunuhan terhadap Presiden Joe BIden Ketua DPR Nancy Pelosi, dan Gubernue Gretchen Whitmer. Pria itu mengklaim dia "menjadi katalisator" untuk revolusi Amerika, kata para pejabat pada Selasa (16/3/2021).

Kantor Jaksa Agung Michigan Dana Nessel pada Senin (15/3/2021) mendakwa Joshua Docter, (21), dari Holland, Michigan, dengan ancaman terorisme dan menggunakan komputer untuk melakukan kejahatan. Setiap tuduhan membawa hukuman hingga 20 tahun penjara.

BACA JUGA: Intelijen Ungkap Rencana Penyerbuan, Keamanan Gedung Capitol AS Ditingkatkan

Tersangka menyerahkan diri pada hari Senin dan menghadapi hakim pada hari Selasa, kata kantor Nessel dalam sebuah pernyataan.

Pengacara untuk Docter belum dapat segera diketahui

FBI, yang memulai penyelidikan, menerima informasi bahwa Docter memposting ancaman di situs media sosial iFunny, dan kasus tersebut kemudian diambil alih oleh Kepolisian Negara Bagian Michigan, kata pernyataan itu.

"Jaksa Agung Michigan Dana Nessel telah mendakwa seorang pria dari Holland dengan kejahatan karena membuat ancaman pembunuhan terhadap Presiden Joe Biden, Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan Gubernur Michigan Gretchen Whitmer," kata pernyataan itu sebagaimana dilansir Reuters.

BACA JUGA: Hampir 300 Tersangka Kerusuhan di Gedung Capitol Ditangkap

“Dalam postingan tersebut, Docter menyatakan bahwa dia akan menggunakan pistol untuk menembak dan membunuh pejabat terpilih dan akan 'menjadi katalisator' untuk revolusi Amerika yang baru. Docter juga memiliki informasi tentang cara membuat bom dan di mana menemukan bahan-bahan yang diperlukan pada ponsel pintarnya,” lanjutnya.

Tuduhan baru dan terpisah datang ketika pejabat penegak hukum AS termasuk Direktur FBI Christopher Wray telah memperingatkan tentang meningkatnya ancaman ekstremisme kekerasan yang tumbuh di dalam negeri di Amerika Serikat.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini