Share

Intelijen Ungkap Rencana Penyerbuan, Keamanan Gedung Capitol AS Ditingkatkan

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 04 Maret 2021 14:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 04 18 2372235 intelijen-ungkap-rencana-penyerbuan-keamanan-gedung-capitol-as-ditingkatkan-oETWesEXbO.jpg Foto: Reuters.

WASHINGTON, DC - Keamanan di gedung Capitol Amerika Serikat (AS) telah ditingkatkan sebagai tanggapan atas "kemungkinan rencana untuk menyerbu" gedung tersebut pada Kamis (4/3/2021), kata polisi Capitol.

Menurut Sebuah pernyataan, tindakan itu dipicu oleh intelijen tentang ancaman yang dibuat oleh kelompok milisi. DPR AS membatalkan sesi pertemuan pada Kamis setelah ancaman itu terungkap.

Namun Senat, yang juga bersidang di Capitol, berencana untuk melanjutkan debat tentang rancangan undang-undang (RUU) bantuan Covid-19 senilai USD1,9 triliun dari Presiden Joe Biden.

BACA JUGA: Dimakzulkan, Trump Rilis Video Kecam Kerusuhan di Gedung Capitol

Pasukan keamanan di Capitol mengatakan "siap untuk segala potensi ancaman terhadap anggota Kongres".

"Departemen kami bekerja sama dengan mitra lokal, negara bagian, dan federal kami untuk menghentikan segala ancaman terhadap Capitol," kata Kepolisian Capitol AS dalam sebuah pernyataan yang dilansir BBC.

"Kami menangani intelijen dengan serius. Karena sifat sensitif dari informasi ini, kami tidak dapat memberikan detail tambahan untuk saat ini."

Ancaman itu muncul dua bulan setelah massa pro-Trump menyerbu gedung Capitol pada Januari ketika anggota parlemen terpilih bergerak untuk mengesahkan kemenangan pemilihan Joe Biden dalam pemilihan presiden.

Kerusuhan tersebut menyebabkan lima orang termasuk seorang petugas polisi tewas dan mengguncang dasar demokrasi Amerika. Kepala kepolisian Capitol kemudian mengundurkan diri sebagai buntut dari penyerbuan tersebut.

BACA JUGA: Hampir 300 Tersangka Kerusuhan di Gedung Capitol Ditangkap

Departemen Kehakiman AS telah mendakwa lebih dari 300 orang dengan partisipasi dalam pengepungan tersebut. Mereka yang ditangkap termasuk anggota kelompok milisi sayap kanan Oath Keepers dan Three Percenters.

Partai Demokrat mengatakan serangan itu merupakan pemberontakan dan menyebabkan pemakzulan Trump karena diduga menghasut massa, menjadikannya presiden pertama dalam sejarah AS yang dimakzulkan dua kali. Trump kemudian dibebaskan oleh Senat.

Pada akhir Februari, Penjabat Kepala Polisi Capitol Yogananda Pittman mengatakan kepada Kongres bahwa para pendukung Trump di balik serangan Januari ingin "meledakkan" Capitol dan membunuh anggota parlemen.

Leon Panetta, mantan Menteri Pertahanan AS dan kepala CIA, mengatakan kepada BBC bahwa polisi tidak akan mengambil risiko setelah serangan bulan Januari.

"Kami harus memiliki intelijen terus-menerus tentang teroris domestik, harus melacak kemungkinan upaya mereka untuk mengulangi apa yang terjadi pada 6 Januari dan saya pikir itulah yang Anda lihat sekarang, adalah kewaspadaan yang berlebihan untuk memastikan bahwa kami siap dengan benar. untuk bereaksi, jika sebenarnya ada kelompok yang mencoba segala jenis serangan bersenjata lagi di Capitol Amerika Serikat," katanya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini