Perang Siber: Bahayanya Yang Perlu Kita Ketahui & Pahami

Opini, Okezone · Kamis 18 Maret 2021 08:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 18 58 2379668 perang-siber-bahayanya-yang-perlu-kita-ketahui-pahami-C3S0pWD34Z.jpg Ardi Sutedja K, pendiri Indonesia Cyber Security Forum.(Foto:Ist)

Perang siber yang dimaksud adalah peristiwa penyadapan atas telpon genggam milik presiden RI, SBY beserta almarhumah istrinya dan pejabat-pejabat tinggi Indonesia lainnya semenjak tahun 2009 oleh dinas intelijen negara tetangga. Hal inilah yang memicu Indonesia untuk segera menyiapkan sebuah badan koordinasi pengaman dan ketahanan ruang siber nasional yang pada saat penggagasannya dinamakan “Badan Cyber Nasional” dan yang kini menjelma menjadi “Badan Siber & Sandi Negara” atau BSSN.

Perang Siber yang pernah disebut-disebut di dalam tajuk “The First World Hacker War” di harian Th New York Times diatas sebagai “The World Wide Web War 1” boleh dikatakan merupakan awal terungkapnya kepada publik tentang pemanfaatan internet sebagai medium penunjang peperangan modern.

Dan ragam istilah muncul kemudian untuk mendiskripsikan berbagai kegiatan tesebut yang sebenarnya juga sudah lama diprediksi oleh Tsun Tzu di dalam bukunya “The Art Of War”. Dan pada awalnya kita mungkin hanya mengenal istilah-istilah seperti espionage atau mata-mata, eaves-dropping atau penyadapan dll, di era digital kekinian istilah-istilah tersebut mulai dilupakan dan menjelma menjadi istilah hacking atau peretasan, namun pada dasarnya kegiatan-kegiatan serta tujuannya adalah sama yaitu bagaimana memperoleh dan memanfaatkan informasi secara diam-diam tanpa diketahui pihak lain.

Kembali ke istilah “Perang Siber”, jadi apa hakikat sebenarnya yang dimaksud? Mungkin secara sederhana dapat dijelaskan bahwa, “Perang Siber adalah sebuah seni dan ilmu peperangan tanpa harus berperang sesungguhnya”.

Dalam konteks konvergensi tehnologi, informasi dan komunikasi (TIK), perang yang dimaksud adalah, “bagaimana mengalahkan pihak lawan tanpa perlu adanya pertumpahan darah”.

Di era digital saat ini kita juga sering banyak mendengar berbagai peristiwa yang mungkin dianggap sebagai peristiwa tersendiri seperti, hacking atau peretasan, data breach atau kebocoran data, cloning atau penggandaan, dsb-nya padahal semua yang telah disebutkan itu adalah bagian dari tahapan awal sebuah perang siber yang kita tidak tahu kapan akan terjadi namun sudah berlangsung tanpa kita sadari.

Perang siber itu sendiri adalah kegiatan yang tidak saja didominir oleh kekuatan negara (state actor) namun juga dilakukan oleh kelompok-kelompok kejahatan teroganisir, terorisme bahkan juga oleh pelaku-pelaku kejahatan tradisional yang bermigrasi melakukan tindak kejahatannya dengan memanfaatkan perkembangan tehnologi.

Bahkan di dalam persaingan dagang-pun kini juga ikut memliki peran yang signifikan baik antar negara maupun antar korporasi. Dan bila melihat pelaku-pelaku perang siber ini atau yang dikenal sebagai hacker atau peretas, tentu juga ada ragam motivasi yang menjadi latar belakangnya aksi-aksinya, dan dampaknya jelas akan berpengaruh serta dapat merugikan kita semua sebagai pengguna tehnologi.

Nah gambaran dampaknya bisa seperti apa? Di dalam perang siber, “peperangan” itu tidak berlangsung seketika, namun didahului dengan semacam siklus awal seperti kegiatan reconnaissance atau pengamatan yang bertujuan untuk mencari dan mempelajari celah-celah kerentanan dari sasaran yang dituju. Setelah kerentanan-kerentanan sudah diketahui, para hacker ini akan mempelajari dan menganalisanya untuk masuk ke siklus berikutnya yang pada akhirnya akan masuk ke tahap-tahap “perang siber” sesungguhnya.

Tahapan-tahapan yang akan terjadi bisa meliputi infiltrasi atau memasuki sistim jaringan komputer tanpa ijin lalu “mengintip” data-data yang tersimpan atau menyalinnya ke dalam media penyimpanan yang kemudian akan kembali dipelajari dan di analisa.

Atau, para hacker ini juga bisa membenamkan berbagai perangkat lunak jahat atau malware yang dapat mereka aktifkan dan kendalikan dari jarak jauh atau berdasarkan sensor waktu. Perlu juga disadari bahwa inflitrasi ini bukan saja dilakukan terhadap jaringan sistim komputer besar namun juga dilakukan hingga ke perangkat pribadi seperti laptop dan telpon genggam cerdas. Kegiatan-kegiatan semacam ini punya tujuan selain “mengintip” isi dan data yang tersimpan, juga mencuri berbagai informasi terkait data-data pribadi yang merupakan sumber dari kredential atau mandat elektronik seperti antara lain kata sandi dll yang dipergunakan untuk bisa mengakses berbagai jaringan komputer baik tempat kerja maupun akun perbankan dan lainnya.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini