DHARMAPUTRA adalah sebuah jabatan yang dibentuk oleh Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit. Dharmaputra beranggotakan tujuh orang, antara lain, Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa. Anggota Dharmaputra itu diketahui tewas karena melakukan pemberontakan.
Ra Tanca adalah satu-satunya Dharmaputra yang masih hidup setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti tahun 1319. Ra Tanca salah satu dari 7 Pejabat Dharmaputra yang berprofesi sebagai Tabib Istana menyimpan dendam dalam-dalam terhadap Jaya Negara.
Dalam Serat Pararaton disebutkan bahwa dendamnya pada Jaya Negara muncul selepas istrinya diperlakukan tidak senonoh oleh Raja. Ia juga masih menyimpan dendam terhadap kematian teman-teman seperjuangannya di Dharmaputra.
Baca Juga: Megahnya Wisata Candi Brahu, Lebih Tua dari Kerajaan Majapahit
Pada tahun 1328, Ra Tanca menemui Gajah Mada untuk menyampaikan keluhan istrinya. Ra Tanca kesal terhadap Jayanegara, ia menerima laporan dari istrinya bahwa raja berniat menikahi dua saudara tirinya. Mereka adalah Dyah Gitarja atau Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Wiyat atau Sri Rajadewi.
Ra Tanca lantas melapor kepada Gajah Mada, tapi sang patih tidak segera bertindak. Ra Tanca, yang merupakan abdi setia mendiang Raden Wijaya, lantas mengambil tindakan sendiri saat mendapatkan kesempatan mengobati Jayanegara.
Jaya Negara adalah Raja kedua Majapahit, menurut Negara Kertagama Jaya Negara naik tahta pada 1309 Masehi dengan Gelar Abhiseka Wiralandaghopala, ia naik tahta selepas kemangkatan ayahnya Dyah Wijaya. Jaya Negara merupakan anak laki-laki satu-satunya Dyah Wijaya, ibunya adalah Indradewi atau Dara Petak seorang Putri Melayu dari Kerajaan Dhamasraya.
Kitab Pararaton menyebut Jayanegara dengan nama Kalagemet yang ditafsirkan sebagai olok-olok karena nama tersebut memiliki arti “lemah" atau “jahat".
Baca Juga: Kisah Kudeta Ra Kuti Pengawal Raja Majapahit yang Ditumpas Gajah Mada
Memang, banyak orang di Majapahit yang tidak senang dengan naiknya Jayanegara menjadi raja. Salah satu penyebabnya adalah karena Jayanegara berdarah campuran, Jawa dan Melayu, bukan turunan murni dari Kertanagara, raja terakhir Singhasari sebelum Majapahit berdiri.