Kisah Kesaktian Maling Aguno, Robin Hood dari Blitar yang Meresahkan Orang-Orang Kaya

Solichan Arif, Koran SI · Senin 22 Maret 2021 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 22 519 2381696 kisah-kesaktian-maling-aguno-robin-hood-dari-blitar-yang-meresahkan-orang-orang-kaya-Kqt5qvIw8w.jpg Makam Maling Aguno. (Foto: Solichan Arif)

Secara topografi, lokasi makam tersebut tersembunyi di kawasan hutan. Akses menuju lokasi berupa jalan setapak yang sarat tanjakan. Tanahnya merah bercampur bebatuan. Tidak hanya terjal. Tanah tersebut juga berkarakter licin saat tersiram air hujan. 

Karenanya hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kami mendatangi lokasi. Sekitar 20 meter sebelum makam, berdiri bongkahan batu kuno yang diduga bagian dari konstruksi bangunan candi. Di atasnya terlihat sisa abu pembakaran dupa. Makam Maling Aguno membujur dengan arah mata angin Utara-Selatan.  

Pada bagian kedua ujungnya, masing-masing tertancap nisan. Namun tidak ada tulisan nama. Juga bersih dari angka tahun. Yang unik pada bagian pusaranya, bukan gundukan tanah, Melainkan tumpukan potongan batu candi. Entah siapa yang meletakannya.  

"Saya pertama kali ziarah makam Maling Aguno sejak masih madrasah tsanawiyah (setingkat SMP). Dari dulu pusaranya ya seperti itu," terang Tatok menjelaskan. 

Bagi sebagian besar masyarakat Blitar, Maling Aguno dianggap sebagai pencuri budiman. Semacam Robin Hood di Inggris, yang menyatroni para bangsawan untuk dibagi-bagikan kepada rakyat jelata. Semacam Brandal Loka Jaya di Tuban atau Maling Cluring di Jombang.  

Maling Kentiri di Kediri (Ada yang menyebut Blora). Diego Carrientes di Spanyol. Atau Janosik di Slovakia. Begitu juga dengan Maling Aguno. Kata Tatok, hasil dari aksi kejahatannya  untuk disedahkan kepada orang orang miskin. 

Ia hanya menyasar orang-orang kaya tamak. Mereka yang menumpuk-numpuk harta tanpa mempedulikan nasib rakyat jelata. Karenanya, meskipun secara hukum melanggar, rakyat kecil tetap mencintainya. Tidak jarang rakyat memilih bersikap melindungi saat Maling Aguno dikejar-kejar. 

"Aguno sendiri memiliki arti yang berguna," kata Tatok memberi tafsir otak-atik gathuk. Bagi orang orang kaya (Saat ini berada di wilayah Blitar), sepak terjang Maling Aguno tidak hanya meresahkan, tapi juga menakutkan. Maling Aguno konon juga bisa masuk ke dalam batang pohon pisang. 

Saat dikejar-kejar ia bisa bergerak cepat yang seolah menghilang. Namun dalam kondisi terjepit, Maling Aguno tidak jarang melawan para pengejarnya. Pasalnya, ia memiliki pukulan mematikan sekaligus tubuh yang tidak bisa dilukai senjata tajam. 

Tatok belum bisa memastikan, Maling Aguno hidup di masa apa. Ada versi yang menyebut, masa Kerajaan Singasari. Karenanya yang ia satroni para penggede kerajaan, bangsawan dan para orang kaya di masa itu. Versi lain mengatakan, di masa Kerajaan Mataram Islam awal. 

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini