Kisah Eriyanto, Korban Selamat Tabrakan Maut di Laut Indramayu

Fathnur Rohman, Okezone · Minggu 04 April 2021 17:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 04 525 2389191 kisah-eriyanto-korban-selamat-tabrakan-maut-di-laut-indramayu-X2h86rksOq.jpg Foto: Okezone

INDRAMAYU - Ucapan syukur tidak henti-hentinya keluar dari mulut Wasito (45), warga Desa Eretan Wetan, Indramayu, Jawa Barat, setelah mengetahui anaknya, Eriyanto (16) selamat dari tabrakan kapal Barokah Jaya dengan Habco Pioneer.

(Baca juga: Pencarian Korban Tabrakan Kapal di Perairan Indramayu Terkendala Komunikasi)

Sosok Eriyanto di mata Wasito adalah anak yang bertanggung jawab. Pasalnya, uang Eriyanto dari hasil melaut semuanya diberikan kepada Wasito dan ibunya, yakni Nurwaeni (40).

Rasa penyesalan sempat muncul dalam benak Wasito, saat pertama kali mendengar kabar kapal Barokah Jaya mengalami kecelakaan. Namun, ia mengaku bersyukur anak keduanya ini tak mengalami nasib seperti kakaknya, yang meninggal dunia karena pergi melaut.

(Baca juga: Urai Kepadatan Arus Balik, Tol Japek Arah Jakarta Diberlakukan Contraflow)

"Sekitar jam 5 sore itu waktunya merapikan jaring terus berlayar. Anak baru dua kali. Yang minggu lalu sama saya. Tapi karena saya sedang ada sangkutan utang dengan orang lain jadi saya ikut orang lain," kata Wasito kepada MNC Portal Indonesia, Minggu (4/4/2021).

Sebelum pergi, Eriyanto sempat menitipkan pesan kepada Wasito agar menjaga ibunya yang kondisi kesehatannya menurun. Sebetulnya, Wasito tidak tega melihat anaknya pergi melaut bersama ABK lain di kapal Barokah Jaya.

Namun, karena desakan ekonomi Wasito tidak bisa melarang Eriyanto pergi melaut. Saat ini ia berharap agar Eriyanto dapat kembali dengan selamat.

"Eriyanto bagian belajar aja. Inginnya sih jangan melaut. Pertama lingkungan dan kedua ekonomi. Anak juga sekolah belum selesai. Bagaimana pun klo belum ada anak di sini, perasaan saya masih tanda tanya," ujar Wasito.

Hingga kini, ia dan Nurwaeni masih setia menunggu kedatangan Eriyanto dari kapal KN 103 Wisnu di perairan Indramayu.

Hal senada juga disampaikan Nuraeni. Nurwaeni sendiri mengaku sangat trauma setelah mendengar kabar insiden itu. Rasa was-was muncul dalam hatinya, karena takut anak keduanya itu mengalami hal-hal yang tak diinginkan.

"Saya kaget. Badan saya geter, karena dengar kapal Barokah Jaya kecelakaan. Sebelumnya dia pamit ke bapakny, suruh jaga saya. Saya lagi sakit," kata Nurwaeni.

Menurut Nurwaeni, Eriyanto sudah dua kali pergi melaut untuk mencari ikan. Biasanya dalam sekali melaut dengan kurun waktu sekitar 10 hari, anak keduanya itu bisa mendapat penghasilan Rp200 ribu.

Uang yang didapat Eriyanto ini, lanjutnya, digunakan untuk membantu perekonomian keluarganya. Nurwaeni sendiri tidak ingin kejadian buruk menimpa Eriyanto. Sebab, sebelumnya anak pertamanya atau kakak dari Eriyanto, mengalami kecelakaan di laut dan meninggal dunia.

"Dia masih SMP. Saya takut. Kakak pertamanya juga meninggal dunia karena kecelakaan di laut," ujarnya.

Saat ini, Nurwaeni ingin segera bertemu dengan Eriyanto. Ia merasa bersyukur karena anaknya selamat dari insiden tabrakan kapal itu.

"Kalau mau ngelarang juga gak bisa. Dia kekeh mau melaut. Kalau pulang, semua uangnya dikasih ke saya, dia gak megang sama sekali. Saya bersyukur dia selamat," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini