Cerita Warga saat Banjir Bandang Flores Timur: Kami Semua Sangat Panik

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 06 April 2021 07:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 06 340 2389970 cerita-warga-saat-banjir-bandang-flores-timur-kami-semua-sangat-panik-CBvzVzvNxA.jpg Banjir bandang Flores Timur (Foto: BBC)

JAKARTA - Seorang warga di Kelurahan Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, Wenchy Tokan mengatakan banjir bandang yang terjadi pada Minggu 4 April 2021 dini hari, membuat warga panik lantaran tak bisa menyelamatkan diri.

Ia bercerita, hujan deras mulai turun pukul 23.00 WITA dan tak berselang lama banjir dari wilayah perbukitan sekitar Kecamatan Adonara Timur menghantam rumah-rumah yang berada di pesisir sungai.

Saat itu, katanya, mayoritas warga sedang tidur. Bahkan, terdapat mayat yang ditemukan di atas tempat tidur.

"Kami semua sangat-sangat panik. Bahkan kami temukan ada mayat ditemukan di luat masih di atas kasur, karena kebanyakan warga sedang tidur," ujar Wenchy Tokan kepada Quin Pasaribu, Selasa (6/4/2021).

"Bangunan semua selesai (hancur) semua. Rumah permanen dan semi permanen, hanyut ke laut," sambungnya. Perkiraan Wenchy setidaknya 50 rumah hancur.

Baca juga: Sejumlah Wilayah di NTT Masih Terisolasi Akibat Banjir Bandang

"Kami dalam kondisi terisolir. Selain itu banjir bandang juga membuat dua jembatan dari beton yang menghubungan antar-desa juga terputus, ungkapnya. "Satu pembangkit listrik juga padam," tambahnya.

Baca juga: 62 Orang Meninggal Dunia Akibat Banjir Bandang di Flores Timur NTT

Di wilayah ini, tim Basarnas mencatat tiga orang meninggal, empat orang luka-luka, dan lima dinyatakan hilang.

Pencarian korban meninggal maupun yang hilang, ujar Wenchy, dilakukan secara manual dengan sekop.

Adapun puluhan warga yang terdampak, lanjut Wenchy, kini diungsikan ke satu gedung sekolah dan sangat membutuhkan selimut serta susu untuk balita. Sementara itu, bantuan makanan dari pemda, belum sampai.

"Untuk sementara ini warga datangkan penanak nasi, masak untuk pengungsi. Besok baru diatur untuk membuat dapur umum."

Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengatakan informasi bencana banjir bandang di empat kecamatan itu baru ia dapatkan sekitar pukul 08.00 WITA karena jaringan komunikasi yang terputus.

Sejak pagi hingga sore hari, katanya, pemda belum bisa mengirim alat berat untuk membantu proses pencarian dan pengiriman makanan kepada warga yang mengungsi di pulau tersebut.

Di lokasi terparah yakni di Desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng, setidaknya ada 1.200 orang yang mengungsi di tiga lokasi yakni gedung gereja dan sekolah.

Namun karena putusnya jembatan penghubung dan akses jalan yang tertutup longsor, pendirian dapur umum masih terhambat. Karena itulah, ia berharap ada "dukungan pemerintah pusat untuk penanganan para korban".

Berdasarkan perkiraan BMKG pada 5 April - 6 April, status Nusa Tenggara Timur dalam kondisi siaga potensi hujan sedang dan lebat yang disertai petir dan angin kencang pada gai hingga siang hari.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini