Curhatan Pengungsi Korban Siklon Seroja Kupang: Kami Butuh Renovasi Rumah

Adi Rianghepat, Okezone · Kamis 08 April 2021 11:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 08 340 2391307 curhatan-pengungsi-korban-siklon-seroja-kupang-kami-butuh-renovasi-rumah-7W7SEFSfK6.jpg Pengungsi bencana (foto: illustrasi Sindo)

KUPANG - Tiga hari sudah, 803 warga Kota Kupang, korban bencana badai siklon seroja menempati sejumlah tempat pengungsian. Sedikitnya ada delapan lokasi pengungsian yang disediakan pemerintah.

Jumlah 803 warga yang mengungsi itu karena rumah milik mereka rata tanah disapu badai. Mereka tak ada pilihan. Terpaksa harus tidur beramai-ramai di ruangan bersama warga lainnya. Sudah tak ada lagi protokol kesehatan ala Covid-19.

"Kami terpaksa datang dan tinggal di tempat ini, karena rumah saya rata tanah," kata seorang ibu pengungsi Magdalena Fransiska Puai.

Baca juga:  Risma Ajak Pengusaha Bantu Korban Bencana di NTT dan NTB

Sejak Senin 5 April pasca badai, dia dan anak-anaknya harus berendam hujan sembari menatap rumah tempat kediamannya yang sudah jadi puing, hingga dibawa tim penyelamat ke posko BPBD. Bersama tujuh orang anaknya serta ratusan warga lainnya, mereka ditampung sementara di kantor itu dan setelahnya dipindahkan ke tempat pengungsian.

"Kami dikasih makan, juga layanan obat-obatan, cukup terlayani," tuturnya.

Baca juga:  Evakuasi Wilayah Terisolasi Terhambat Gegara Cuaca Buruk di NTT

Namun demikian, kegelisahan masih mengiang di lubuknya, karena rumah tempat mereka tinggal sudah lenyap. Dengan apa mereka akan membangunnya kembali? Sedikit haru sambil menggendong putra bungsunya, Magdalena berkata harap, pemerintah akan membantu membangun kembali kediamannya, juga warga lainnya.

"Di sini (tempat pengungsian) kami nyaman. Disediakan makanan 3 kali sehari. Ada tim medis dan obat-obatan, tapi apakah kami akan terus tinggal di sini," katanya dengan nada tanya.

Dia mengaku sudah tak kuat lagi bisa membangun kembali rumahnya itu dalam waktu singkat. Suami Magdalena hanyalah seorang pekerja serabutan.

"Hanya ada tangan lain yang bisa menolong. Kami punya asa, pemerintah bisa melalukan itu," katanya. Memang, Magdalena tak menujukan tampilan wajah susah. Itu harus dilalukan agar anak-anaknya tetap kuat dan tegar menghadapi musibah bencana ini.

Pemkot Kupang Tak Miliki Dana

Asa Magdalena dan ratusan warga korban bencana yang saat ini mendiami tempat pengungsian bakalan pupus. Pemerintah Kota Kupang mengaku nihil anggaran untuk tahapan rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana.

Kepala BPBD Kota Kupang Jemy Deerens Didoek mengaku, pemerintah sampai saat ini hanya mampu memberi bantuan tanggap darurat.

"Dana kami tak ada, kami tak mampu lakukan rekonstruksi dan rehabilitasi rumah warga," katanya.

Meski demikian, dia masih berharap akan ada perubahan kebijakan, agar anggaran untuk rekonstruksi dan rehabilitasi bisa diperoleh. Dia menyebut, sejauh ini data sementara, ada sebanyak 6.320 jiwa dari 1.624 kepala keluarga yang terdampak badai siklon seroja itu. Dari jumlah itu, 803 di antaranya sedang berdiam di tempat-tempat pengungsian.

Setidaknya harapan Kepala BPBD Kota Kupang Jemy Deerens Didoek itu selaras dengan asa mama Magdalena Fransiska Puai dan warga korban badai seroja lainnya. Ada keselarasan untuk kembali hidup normal di kediaman masing-masing untuk terus meniti dan mengais hidup, setelah pemulihan usai badai siklon seroja berlalu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini