Seorang aktivis Thailand terkemuka, Netiwit Chotiphatphaisal, mengatakan kepada BBC jika pengumuman itu adalah momen besar bagi gerakan tersebut.
"Sangat bagus bahwa Twitter mengakui apa yang telah kami perjuangkan selama bertahun-tahun," katanya.
"Kami harus melawan tidak hanya diktator kami tetapi juga dengan dominasi China,” lanjutnya.
"Pergerakan ini terjadi tidak hanya secara online tetapi juga offline. Ini berdampak besar,” terangnya.
Aktivis terkemuka dari wilayah tersebut merayakan pengumuman tersebut secara online.
Sebuah posting di akun Twitter aktivis Hong Kong Joshua Wong menggunakan emoji, menulis: "Selalu dalam solidaritas, tidak peduli betapa sulitnya zaman."
Sementara itu, pemerintah China telah mengkritik Aliansi Teh Susu.
Dikutip Bloomberg, juru bicara kementerian luar negeri China Zhao Lijian mengatakan pada konferensi pers pada Kamis 98/3) jika gerakan itu "secara konsisten memegang posisi anti-China, dan penuh bias terhadap China.”
Meskipun Twitter dilarang di China daratan, para pejabatnya telah menggunakan platform tersebut untuk melawan kritik internasional terhadap kebijakan Beijing.
(Susi Susanti)