Masa kecilnya bernama Pangeran Santikusuma. Ia adalah putra terakhir (ke 10) dari Santribadra yang merupakan keturunan trah Majapahit.
"Sejak kecil beliau telah ditinggal ayahnya ke Majapahit dan ibunya telah meninggal sejak usia 2 tahun," jelas Koh Lam, penggiat sejarah Lasem.
Pangeran Santikusuma sering diajak kakaknya Pangeran Santipuspa ke eyangnya Adipati Tuban (Sunan Bejagung). Di usianya yang beranjak 19 tahun, ia belajar agama Islam kepada Sunan Bejagung (kakeknya) dan juga Sunan Bonang.
Dari kakeknya Pangeran Santikusuma mendapatkan nama Islam yaitu Raden Mas Said atau biasa dikenal Sunan Kalijaga. R.M. Said Santikusuma (Sunan Kalijaga) merupakan salah satu walisongo yang menerapkan penyebaran agama Islam melalui penyesuaian lingkungan dan kebudayaan yang ada di daerah setempat karena kepandaiannya kanjeng Sunan Raden Mas Said (Sunan Kalijaga) untuk mengajak para kaum kejawen. (CSL: 14-15)
Satu di antara karya Sunana Kalijaga adalah" Kidung Rumeksa Ing Wengi". Kidung ini berfungsi sebagai kidung tolak bala.
"Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Guna duduk pan sirna."
"Ada kidung melindungi di malam hari
Penyebab kuat terhindar dari segala kesakitan
Terhindar dari segala petaka
Jin dan setan pun tidak mau
Segala jenis sihir tidak berani
Apalagi perbuatan jahat
Guna-guna dari orang tersingkir
Api menjadi air
Pencuri pun menjauh dariku
Segala bahaya akan lenyap. "