Kidung ini disusun dalam sastra macapat yang ditulis dalam metrum dhandhanggula. Di buku Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga (2003) dituliskan, kidung berarti sabda atau firman, sebagai teknik membangkitkan konsentrasi dan kekuatan pikiran.
Kidung gubahan Sunan Kalijaga ini sebagai penolak bala kejahatan yang dilakukan malam hari. Dari kejahatan pencurian, sampai yang disebut gaib seperti sihir, teluh dan santet.
Disebutkan, kidung ini masih berfungsi di desa pada masa, misalnya mengusir hama tikus. Setelah berpuasa sehari srmalam, makan sahur dan buka tengah malam. Kidung Rumeksa ing Wengi dibaca sambil mengelilingi pematang sawah atau ladang. Dipercaya, tikus tidak datang ke sawah itu.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.