Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Konglomerat Perusahaan Teknologi di Silicon Valley Pindah ke Desa

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Sabtu, 17 April 2021 |19:23 WIB
Kisah Konglomerat Perusahaan Teknologi di Silicon Valley Pindah ke Desa
Shridar (Foto: BBC Indonesia)
A
A
A

Sridhar menilai tidak ada gunanya "melontarkan teori tanpa konteks" kepada pelajar, sebelum membuat mereka memahami aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

"Saya menjadi insinyur listrik lewat pendidikan formal. Saya mempelajari persamaan Maxwell tapi saya tidak ingat satupun teori itu."

"Persamaan Maxwell [yang berhubungan dengan dasar-dasar elektromagnetisme] penting. Tapi menurut saya, itu akan menjadi penting hanya setelah Anda mempelajari cara kerja motor listrik, dengan memutarnya dan menghancurkannya," kata Sridhar.

Insitusi pendidikan berbasis idenya

Sangat tertarik pada pendidikan, Sridhar mendirikan beberapa "sekolah Zoho" yang menanggalkan metode belajar-mengajar konvensional.

Dua sekolah itu dia buka di negara bagian Tamil Nadu. Sridhar secara teratur mengunjungi salah satu sekolah yang terletak di distrik Tenkasi, di dekat desanya.

Sekolah itu menggelar program intensif berdurasi dua tahun untuk mata pelajaran teknologi perangkat lunak, manajemen, desain, dan penulisan kreatif.

Untuk dapat menjadi murid di sekolah ini, Anda harus berusia 17-20 tahun dan sudah menyelesaikan pendidikan dasar selama 12 tahun.

Setiap murid di sekolah itu akan mendapatkan jatah makanan dan uang saku US$140 (Rp2 juta) setiap bulan.

"Kami mengajari Anda pemrograman. Anda membuat kode aplikasi nyata," kata Sridhar. "Itu adalah belajar sambil praktek."

"Anda bisa menjadi tukang ledeng yang hebat tanpa memahami dinamika fluida. Anda bisa menjadi programmer hebat tanpa memahami prinsip-prinsip mendalam ilmu komputer. Itu penting untuk diingat," ucapnya.

Sekitar 900 murid yang di sekolah Zoho kini menjadi pegawai Sridhar. Hanya beberapa miliuner seperti Bill Gates dan Warren Buffet yang menyisihkan sebagian besar kekayaan mereka untuk tujuan filantropi.

Namun Sridhar tidak ingin meniru 'model Barat'. Menurutnya, tanggung jawab sosial adalah bagian integral dari bisnisnya.

"Kami cenderung melakukan banyak hal dan tidak melabeli gerakan ini sebagai amal.

"Ketika kami berinvestasi dalam pengembangan keterampilan, kami sebenarnya membantu perusahaan dan juga membantu orang yang sedang dilatih," tuturnya.

Tapi Sridhar tidak akan berhenti di situ.

Dia mengumumkan rencana untuk mendirikan rumah sakit dengan kapasitas 250 tempat tidur di selatan India. Sridhar berharap itu dapat memenuhi kebutuhan pasien di pedesaan dan pinggiran kota.

Januari lalu dia dianugerahi penghargaan sipil tertinggi keempat di India.

Sridhar juga ditunjuk menjadi anggota dewan penasihat keamanan nasional. Perannya antara lain menemukan cara bagi India untuk memperoleh pengetahuan ilmiah di berbagai sektor yang penting bagi kebutuhan ekonomi dan keamanan negara itu.

Tapi apakah dia akan tetap bekerja dari desa terpencil selamanya?

Sridhar berharap dapat mengunjungi kantornya di AS ketika pandemi selesai. Meski begitu, dia menyebut itu hanya akan menjadi perjalanan singkat.

Dia tidak berencana kembali ke AS secara permanen. Dia mengklaim tidak tertarik pada kemewahan dan uang yang ditawarkan Silicon Valley.

"Saya menjalankan sebuah perusahaan. Perusahaan itu kaya. Itu tidak berarti saya secara pribadi menjalani gaya hidup itu. Saya tidak tertarik."

"Saya tidak akan merindukan kehidupan itu untuk apa pun," ujarnya.

"Kami sering berpikir bahwa uang adalah obat untuk semua tujuan. Padahal sebenarnya tidak. Anda membutuhkan perekat sosial," kata Sridhar.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement