Fauci: AS akan Kembali Gunakan Vaksin Johson & Johnson

Agregasi VOA, · Senin 19 April 2021 08:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 19 18 2396883 fauci-as-akan-kembali-gunakan-vaksin-johson-johnson-daiWlo8rsV.jpg Dr. Anthony Fauci (Fotoi: AFP)

WASHINGTON - Pakar penyakit menular terkemuka di Amerika Serikat (AS), Dr. Anthony Fauci pada Minggu (18/4) mengatakan AS kemungkinan akan melanjutkan pengunaan vaksin Johnson & Johnson pekan ini, mungkin dengan pembatasan atau peringatan yang lebih luas setelah munculnya laporan dari beberapa kasus penggumpalan darah yang sangat langka.

Dalam serangkaian wawancara Dr. Fauci mengatakan ia memperkirakan keputusan tentang Johnson & Johnson akan disampaikan ketika tim penasehat bagi Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit CDC melangsungkan pertemuan Jumat nanti (23/4) guna membahas penangguhan penggunaan vaksin dosis tunggal itu.

“Saya akan sangat terkejut jika kami tidak memulai kembali (penggunaan vaksin Johnson & Johnson) setelah hari Jumat,” ujarnya.

“Saya tidak benar-benar mengantisipasi jika mereka menginginkan penangguhan sedikit lebih lama,” lanjutnya.

(Baca juga: Presiden Wanita Pertama di Afrika, Wapres AS, hingga Pemimpin WTO, Perempuan Kulit Hitam Dobrak Sejumlah Rintangan)

Fauci, yang merupakan kepala penasehat medis pemerintahan Joe Biden, mengatakan ia yakin regulator federal akan kembali menggunakan vaksin Johnson & Johnson berdasarkan usia atau gender dengan peringatan menyeluruh, sehingga dapat diberikan dengan cara “yang sedikit berbeda dengan yang diberikan sebelum penangguhan itu.”

Vaksin Johnson & Johnson berada dalam ketidakpastian setelah Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit CDC dan Administrasi Pangan dan Obat-Obatan FDA pekan lalu mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak bukti untuk memutuskan apakah kasus penggumpalan darah yang tidak biasa yang ditemukan pada beberapa orang, memang terkait vaksin itu; dan jika benar demikian maka seberapa besar risikonya.

Beberapa laporan menyatakan enam kasus dari lebih tujuh juta orang yang diinokulasi vaksin Johnson & Johnson mengalami penggumpalan darah. Hal ini ditemukan pada enam perempuan berusia antara 18 – 48 tahun. Salah seorang di antaranya kemudian meninggal.

(Baca juga: Sejarah Kulit Hitam Dituntut Masuk dalam Kurikulum Sekolah di AS)

Penjabat sementara FDA mengatakan ia memperkirakan penangguhan penggunaan vaksin Johnson & Johnson itu hanya berlangsung beberapa hari. Meskipun demikian keputusan itu langsung memicu tindakan di Eropa dan beberapa kawasan lain.

Fauci mengatakan ia ragu Amerika akan benar-benar menangguhkan secara permanen penggunaan vaksin Johnson & Johson. “Saya kira hal ini tidak akan terjadi,” terangnya.

“Penangguhan itu untuk mengkaji, memastikan kita tahu semua informasi yang kita miliki dalam jangka waktu itu, dan juga mengingatkan sejumlah dokter tentang hal-hal yang mungkin terjadi pada pasien – khususnya pasien perempuan – yang mengalami isu ini, sehingga mereka dapat merawatnya secara tepat,” tambahnya.

“Saya kira tampaknya Amerika akan mengatakan OK kita akan menggunakannya, tetapi hati-hati dengan kondisi-kondisi khusus ini,” tegasnya.

Lebih dari 6,8 juta dosis vaksin Johnson & Johnson telah diberikan di Amerika, di mana sebagian besar tidak memiliki efek samping apapun, atau bersifat moderat.

Pihak berwenang menegaskan bahwa mereka tidak mendapati adanya penggumpalan darah pada mereka yang menggunakan vaksin-vaksin lain – seperti Pfizer-BioNTech dan Moderna.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini