DALAM buku " Kuasa Ramalan", karya sejarawan Peter Carey hlm.161-73 diceritakan perjumpaan Pangeran Diponegoro dengan Ratu Kidul di Gua Langsé pada musim kemarau 1805, dan sesudahnya di Banyumeneng (Kulon Progo) pada malam bulan purnama 20/21 Juli 1826.
"Selanjutnya Pangeran melintasi kaki Gunung Kidul menuju Gua Langse yang menjorok ke arah Lautan Hindia yang gemuruh dan yang hanya bisa dicapai lewat jalan curam setapak menuruni tubir-tubir batu karang hingga ke lubang masuk yang nyaris menyentuh permukaan laut," ujar Peter Carey.
Gua tersebut, dan tempat-tempat terdekat di Pamancingan (Mancingan), Parangtritis, Parangkusumo, dan Parangwedang, suatu sumber air panas, merupakan tempat-tempat yang sangat penting dalam upacara pemujaan Ratu Kidul, pelindung rohani dan pasangan roh halus raja-raja keraton Jawa tengah.
Baca Juga: Kisah Pangeran Diponegoro Bertemu Sunan Kalijaga, Diminta Mengubah Nama dan Diberi Panah Sarutomo
Mancingan, misalnya, dikenal sebagai satu di antara delapan permukiman utama roh halus (lelembut) Jawa dan rumah pertapa perempuan, Cemoro Tunggal, yang dianggap hampir sama dengan Ratu Kidul.
Tempat yang sama juga dikaitkan dengan Syekh Maulana Maghribi, seorang wali yang konon berasal dari masa kerajaan Demak, yang hidup dan dimakamkan di salah satu puncak di antara sejumlah bukit-bukit kecil yang menghadap ke laut.
"Parangtritis—disebut begitu karena air yang merembes dari batu-batu karang di gua-gua— merupakan tempat Senopati berangkat menemui Ratu Kidul di keraton bawah lautnya, dan saat kembali, di tempat itu pula ia bertemu dengan Sunan Kalijogo," ungkapnya.
Baca Juga: Kisah Pangeran Diponegoro di Bulan Puasa dan Ditangkap saat Lebaran
Dari batu karang kembar di pantai Parangkusumo, suatu sajian persembahan—dikenal sebagai “labuhan” (dari kata Jawa labuh, “melemparkan ke air”)—dibuat setiap tahun oleh Sultan Yogya untuk pasangannya yang roh halus, yakni dewi laut selatan.